About fathimuhammadattaqi

just another blogger for wasting time and space

Diam-diam Pemerintah Tanam FinFisher Mata-mata Paling Berbahaya di Dunia


Korban Mafia Hukum

Pemerintah Indonesia diduga melakukan praktik mata-mata lewat internet. Adalah Citizen Lab, lembaga penelitian asal Universitas Toronto Kanada yang mengungkapkan bahwa Indonesia aktif menggunakan FinFisher lewat server di Australia.
Salah seorang penelitinya, Bill Marczak menyampaikan pada awal tahun ini bahwa sebuah control and command server untuk FinFisher baru selesai dibangun di Indonesia, sehingga nantinya tidak perlu lagi melewati server di Australia.

Selain Indonesia, beberapa negara seperti Brunei, Singapura dan Turkmenistan diketahui telah membangun FinFisher command and control server baru, menurut Citizen Lab. FinFisher sendiri dikenal sebagai spyware besutan Gamma Internasional, perusahaan asal Inggris dan Jerman.

Gamma Internasional sendiri menjelaskan bahwa software ini hanya ditujukan untuk penegakkan hukum (law enforcement), namun dalam operasionalnya disinyalir banyak terjadi penyalahgunaan terutama berkatian dengan isu hak asasi manusia dan politik.
Pakar keamanan cyber Pratama Persadha menjelaskan bahwa FinFisher termasuk spyware paling berbahaya dan sekaligus paling menguntungkan di dunia saat ini.

“Dalam operasinya, trojan FinFisher menggunakan FinSpy Relays, untuk…

View original post 239 more words

Advertisements

DIBUTUHKAN ! MASJID RAMAH ANAK


DIBUTUHKAN ! MASJID RAMAH ANAK
by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Saya ingin berbagi pengalaman kawan saya yang berjuang agar anak-anak punya hak untuk berada di dalam masjid

2| Sudah bukan menjadi rahasia lagi betapa kadang anak-anak kehadirannya tidak begitu diharapkan di dalam masjid

3| Anak-anak dianggap pengganggu kekhusyukan dalam beribadah. Sehingga bahkan ada masjid yg terang-terangan menulis larangan anak masuk masjid

4| Bahkan ada orang dewasa yang tak segan-segan menghardik dan mengancam mereka jika bermain dan bercanda. Masjid pun menjadi tempat menyeramkan

5| Anak-anak pun mencari tempat alternatif hiburan. Pilihannya playstation dan game online. Permainan menyenangkan. Penjaganya pun menyambut ramah

6| Akhirnya pihak masjid pun susah mencari kader remaja masjid. Banyak remaja yg menolak, sebab waktu kecil selalu dimusuhi saat di masjid

7| Sifat Allah yg Maha Rahman tak muncul dalam perilaku sebagian pengurus masjid yg galak dan suka bentak anak

Anak-anak lebih mengenal Allah yang Mahakeras siksanya dibandingkan Maha RahimNya. Sebab mereka banyak dihukum dan dimarahi jika bermain-main di masjid

9| Pun jika ada anak yang sungguh-sungguh ibadah. Ternyata banyak mereka yang tak layak ada di shaf depan. Padahal mereka datang sejak awal.

10| Padahal hak ada di shaff depan adalah yg datang duluan, bukan berdasarkan usia

11| Kadang saat sholat jumat pun, khatib lupa menyapa anak-anak. Lebih fokus kepada jamaah dewasa. Anak-anak dianggap warga kelas dua

12| Masjid sebagai pusat display agama, seharusnya menjadi tempat untuk mengajarkan hakikat islam sesungguhnya : kasih sayang dan keramahan

13| Tidak berminatnya remaja saat ini terhadap Islam, sebagian besar karena trauma di masa kecil akan tampilan islam khususnya di masjid

14| Masjid kalah bersaing dengan mall, warnet dan tempat permainan lain dimana penjaganya ramah dan murah senyum

15| Banyak jamaah berebut menjalankan sunah di masjid. Lupa akan sunah yang lain yang diajarkan rasul : memuliakan anak-anak khususnya di masjid

16| Sungguh indah saat rasul membawa cucunya, umamah dan husain ke masjid. Digembirakan mereka dengan digendong seraya bermain di masjid

17| Demi memuaskan husain bermain di masjid, Rasul melamakan sujudnya agar ia puas menungganginya seperti kuda. Tak memarahinya

18| Sahabat menduga lamanya sujud akibat datangnya wahyu. Mereka salah. Rasul menyengajakannya supaya anak-anak puas bermain di masjid

19| Kisah-kisah Rasul yang memuliakan anak di masjid mungkin jarang terdengar atau sengaja dilupakan sebagian orang. Padahal mereka mengaku pencinta rasul

20| Alhamdulillah setelah banyak dialog dengan pengurus masjid yang melarang anak-anak, akhirnya ada juga yang tercerahkan meski awalnya marah-marah

21| Bahkan ada yang berinisiatif membuat area bermain bagi anak-anak serta menyediakan pampers bagi mereka

22| Biarlah anak betah bermain di masjid daripada memilih bermaih di tempat lain yang menjauhkan mereka dari agama

23| Jika sudah merasa nyaman di masjid. Barulah buat peraturan. Kapan harus bermain dan kapan harus ibadah. Mereka tentu bisa menerima

24| Indahnya jika kita lihat anak-anak saat waktu luang, izin ke ortunya untuk pergi ke mesjid. Berlama-lama disana. Masjid pun ramai

25| Orang dewasa lain yang malas ke masjid pun jadi bergairah melihat masjid yg ramai. Jadilah setiap masyarakat memakmurkan masjid

26| Jika masjid ramai, maka tak ada lagi yang ribut dengan konser lady gaga atau sejenisnya. Sebab masyarakat sepakat menolak. Mereka semua hatinya terpaut ke masjid

27| Jadi dari sekarang, mari buat masjid sebagai tempat yang nyaman, ramah, bersih dan menyenangkan bagi anak-anak. Kelak mereka yang akan memakmurkan masjid

28| Jika sudah terlanjur, bikin iklan ke warnet-warnet dan gameonline, bahwa masjid sekarang asyik lho. Bahkan punya area bermain. Niscaya warnet sepi

29| Mudah-mudahan ada pengurus masjid yg baca postingan ini dan memulai gerakan ajak anak ke masjid. Saya berdoa semoga terwujud. Aamiin..

sumber : Facebook

Facebook: the most congenitally dishonest company in America


Progressive Culture | Scholars & Rogues

If you are not paying for it, you’re not the customer; you’re the product being sold.”

Did you know you have a Facebook email address? Maybe you did and maybe you didn’t. But if you have a Facebook account you have a Facebook email. And that email is now your default email on FB.

WTF? You didn’t do that. NOBODY would do that. As Kashmir Hill writes at Forbes, it’s a lame attempt by our friends at Facebook to force their service on you. Gervais Markham is even more pointed:

In other words, Facebook silently inserted themselves into the path of formerly-direct unencrypted communications from people who want to email me.

View original post 555 more words

HUKUM LIWATH (GAY) DAN SIHAQ (LESBI)


ASH HABUL HADITS

HUKUM LIWATH (GAY) DAN SIHAQ (LESBI)

حكم اللواط والسحاق

Hukum HOMOSEKS

Gay (Liwath) & Lesbian (Sihaq)

Disusun oleh:

Abul Ahmad Muhammad Al-Khidir bin Nursalim Al-Limboriy Al-Mulky

-semoga Allah menjaga dan mengokohkannya-

DARUL HADITS

DAMMAJ-SHA’DAH-YAMAN 1432 H

MUQADDIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا. مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا. وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد:

            Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an adalah kitab paling bagus penjelasannya, paling lengkap keterangannya dan paling sempurna isinya, di dalamnya Allah Ta’ala kisahkan tentang umat-umat terdahulu yang Alloh binasakan karena kedurhakaan mereka kepada Allah Ta’ala, tidak luput pula Alloh jabarkan di dalam Al-Qur’an tentang kisah suatu kaum yang Allah binasakan. Alloh menjungkir balikan mereka di atas bumi kemudian Alloh…

View original post 17,053 more words

Surat Terbuka untuk Pak @Jokowi : Izinkanlah ECCT selamatkan nyawa kami


Indira Abidin's Blog


Bapak Presiden yang sangat kami hormati, semoga Bapak selalu sehat wal afiat, sehat lahir batin, bebas dari penyakit apapun.

Kesehatan adalah hak asasi setiap rakyat Indonesia. Dengan sehat kami bisa berkreasi, membangun keluarga, membangun masyarakat dan bangsa. Sayangnya, sehat ini susah didapatkan di Indonesia, terutama bagi kami penerima anugerah kanker.

Ada 4,3 penerima anugerah kanker per 1.000 penduduk Indonesia. Namun hanya ada 0,6 tempat tidur dan 0,2 dokter per 1.000 penduduk untuk melayani berbagai macam penyakit, tidak hanya penyakit kami. Belum lagi kanker adalah penyakit yang cepat sekali mengambil nyawa kami.

Banyak di antara kami yang merasa depresi, bahkan hampir bunuh diri, mendengar diagnosa kanker. Pengobatan susah didapat, apalagi di daerah. Bahkan bagi kami yang kebetulan tinggal di kota, punya uang, dan mampu berobat, tak ada dokter yang dapat menjamin kesembuhan kami. Bahkan di Amerika yang sangat siap melayani pun, tingkat survival 5 tahun untuk kanker payudara hanya 11% (SEER).

View original post 409 more words

Larangan yang Dilarang, Larangan yang Dibolehkan


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Semoga Allah Ta’ala mengampuni saya.
Marilah kita mengingat firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an surat Luqman:
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman, 31: 19).
Apa yang buruk dengan suara keledai? Suara yang keras, tidak enak didengar, serupa membentak. Tidak patut kita menggunakan suara semacam ini pada saat berbicara, meskipun kepada anak-anak kita. Bersuara keras tanpa ada maslahat yang memang mengharuskan untuk keras, terlebih tak enak didengar dan menjengkelkan, menjadikan nasehat yang baik akan terasa menyebalkan. Apalagi jika itu digunakan untuk menyampaikan larangan, semakin menimbulkan penolakan.
Apa yang sebenarnya terjadi pada kita? Banyak orangtua maupun guru yang begitu buruknya melihat larangan, seolah larangan itu mematikan sel-sel otak dan bahkan jutaan sel pula, sehingga kita meninggalkan apa yang justru ada contohnya dari generasi salafush shalih. Kita menganggap larangan itu sebagai penghambat pendidikan, padahal masalahnya lebih kepada bagaimana kita seharusnya melarang serta suara yang kita gunakan saat menyampaikan larangan. Kerap terjadi dalam berbagai forum keayahbundaan (parenting), mengesankan buruknya larangan dengan suara keledai yang menggelegar dan tidak enak didengar. Sementara ketika menunjukkan cara komunikasi yang berbeda menggunakan nada suara yang lebih bersahabat bagi telinga dan lebih dekat dengan sunnah. Alhasil, banyak pendidik merasa bahwa melarang merupakan seburuk-buruk cara mendidik yang ada di muka bumi. Cara lain itulah yang baik. Padahal ada faktor lain yang perlu diperhatikan, yakni suara kita saat berbicara maupun suara narasumber saat memberikan contoh dan mendemonstrasikan baik buruknya teknik komunikasi.
Apakah dengan demikian kita merdeka untuk menghujani anak dengan berbagai larangan? Tidak. Sebaik-baik perkataan adalah kitabuLlah dan sebaik-baik petunjuk adalah sunnah Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Maka kepada wahyain (dua wahyu) inilah kita mengacu, melihat contoh dan berusaha mengilmui prinsip-prinsipnya. Kita menyampaikan larangan, perintah maupun nasehat yang berisi pertimbangan kepada anak untuk mengokohkan kebaikan maupun meluruskan kesalahan.
Inilah yang perlu kita gali dan pelajari agar dapat mendidik anak dengan baik (semoga Allah Ta’ala menolong kita dalam membaguskan anak-anak kita serta diri kita sendiri). Kita perlu belajar untuk menakar tindakan, tidak tergesa-gesa dalam bertindak agar tidak keliru mencela di saat harus memberi penghargaan atau sebaliknya.
Sesungguhnya setiap anak lahir dengan dorongan berbuat baik. Ia mencintai kebaikan dan secara naluriah ingin menjaga diri dari keburukan. Tetapi, pada saat lahir, mereka belum mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan. Orangtuanyalah yang keliru memberi tepuk tangan pada keburukannya sehingga anak justru bersemangat mengulangi, sementara saat berbuat baik kita kadang justru mengabaikannya sehingga anak enggan melakukannya lagi. Hanya gara-gara berbuat baik pada adiknya di waktu yang tidak tepat, mata kita melotot dan tangan kita segera memberi pesan pada lengannya dengan sebuah cubitan yang membuatnya meringis kesakitan. Padahal yang seharusnya kita lakukan adalah memuji iktikadnya dan meluruskan tindakannya. Bukan menyalah-nyalahkan. Apalagi mempersalahkan. Sebab setiap anak pada dasarnya tidak mau disalahkan dan dicela. Apalagi dipermalukan. Tetapi, mereka akan senang apabila dihargai dan ditunjukkan apa yang lebih baik bagi mereka.
Apakah ini berarti kita tidak boleh menunjukkan kesalahan anak? Bukan begitu. Jika kita tidak menunjukkan kesalahan anak, mengajari anak untuk menyadari kesalahannya dan selanjutnya berani mengakui kesalahannya, mereka justru dapat berkembang menjadi pribadi yang rapuh tidak tahan kritik. Bahkan menerima teguran yang tak seberapa sekalipun, membuatnya tersinggung dan meradang. Padahal sebagai muslim, kita dituntut untuk saling menasehati, saling mengingatkan dalam kebenaran, mengoreksi yang salah dan bahkan nahy munkar (mencegah kemungkaran). Jika anak-anak tidak dididik untuk menerima dan mengakui kesalahannya, maka sulit sekali mereka menerima teguran dari sesama muslim, yang paling halus sekalipun.
Alangkah banyak kemajuan yang justru bersumber dari kesediaan menerima dan mengakui kesalahan, lalu dengan itu memperbaikinya. Sangat berbeda menyalah-nyalahkan dengan menunjukkan kesalahan. Adakalanya kita bahkan perlu mengingatkan anak terhadap kesalahannya, terutama untuk anak yang sudah beranjak besar. Mereka mulai mengerti; mampu membedakan benar dan salah dengan akalnya.
Berkenaan dengan menunjukkan kesalahan anak, sekedar contoh saja, ada buku yang patut dipelajari. Judulnya Better by Mistake: The Unexpected Benefits of Being Wrong. Apa yang menarik dari buku ini? Merujuk kepada penelitian terhadap bangsa China, Korea Selatan dan Jepang, menunjukkan kesalahan anak dan mengajak menelusuri mengapa kesalahan tersebut dapat terjadi merupakan hal yang sangat berperan terhadap kemajuan pendidikan. Anak bersemangat mengetahui kesalahannya sekaligus belajar bagaimana memperbaikinya di masa yang akan datang. Artinya, ada kesiapan anak untuk menerima kesalahan, kesiapan teman-teman sebaya untuk menerima sebagai hal yang dapat terjadi pada siapa pun, ada dukungan dari lingkungan untuk belajar dari kesalahan (termasuk dari teman-teman sebaya) dan ada umpan balik dari guru. Jadi bukan sekedar menunjukkan kesalahan. Apalagi hanya menyalah-nyalahkan saja.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Tentu, ada kesalahan yang hanya patut kita sampaikan kepada anak tanpa diketahui orang lain. Ini merupakan kesalahan yang apabila disampaikan di depan anak-anak yang lain akan menjadi aib baginya, sehingga jika orangtua maupun guru melakukannya dapat membangkitkan dendam pada diri anak. Yang demikian ini merupakan salah satu penyebab kenakalan anak. Khusus berkait dengan kenakalan, saya berharap dapat menuliskannya dalam satu buku terpisah. Insya Allah. Kepada Allah Ta’ala saya memohon petunjuk dan kemudahan.
Tetapi…
Sulit bagi anak untuk menerima kesalahan, bahwa dirinya melakukan kesalahan, jika kita menyampaikannya dengan nada mencemooh. Sulit pula bagi anak mengakui kesalahan jika kita tidak membiasakannya menerima kritik. Hanya memuji tanpa memberikan koreksi justru dapat menjadikan anak mudah tersinggung jika ditunjukkan kesalahannya. Begitu pula jika anak terlalu sering memperoleh kritik. Hal yang sama –sulit menerima kritik dan koreksi—jika mereka sangat jarang menerima perintah dan larangan.
Jika kita ingin mengantarkan anak-anak agar dapat menundukkan hatinya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, maka ketahuilah bentuk ujian yang paling nyata dari Allah Ta’ala kepada manusia adalah perintah-perintah serta larangan-larangan. Tidak bernilai amal dan ibadah kecuali yang benar-benar dilakukan ikhlas semata mengharap ridha Allah Ta’ala. Tetapi ikhlas bukan berarti ringan di hati. Berat hati tapi tetap melaksanakan demi memperoleh ridha Allah Ta’ala, pun demikian dalam menjauhi apa yang dilarang, maka itulah ikhlas. Dan kita sebagai orangtua perlu menyiapkan ruhani anak agar tidak merasa terganggu “haknya” oleh perintah-perintah serta larangan-larangan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan, 76: 2).
Nah.
Meskipun demikian, terlalu banyak memberikan perintah dan larangan tanpa memberi kesempatan untuk berbincang bersama maupun bertukar pikiran, dapat menjadikan kehilangan inisiatif-inisiatif produktifnya. Sesungguhnya, segala sesuatu yang melampaui batas akan keluar dari kebaikan. Pertanyaannya, bagaimana dengan kita selaku orangtua? Sudah tepatkah? Ataukah kita termasuk orang-orang yang melampaui batas? Atau sebaliknya, kita masih lemah dalam mendidik anak?
Sebelum beralih ke perbincangan berikutnya, mari sejenak kita ingat do’a-do’a yang dituntunkan bagi kita untuk memohon kepada Allah Ta’ala. Di antara do’a tersebut ada yang menggunakan kalimat larangan. Apakah ini bermakna kita melarang (apalagi melarang keras) Allah Ta’ala? Tidak. Sama sekali tidak. Tak ada kepatutan bagi kita, tak pula kekuasaan. Ini merupakan kalimat larangan yang bermakna permohonan penuh harap. Dalam mendidik anak, kita pun dapat menyampaikan kalimat-kalimat larangan yang bermakna harapan kepada anak-anak kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga Allah Ta’ala menolong kita, membaguskan anak-anak kita, dan memperbaiki apa yang buruk dari cara kita mendidik anak.
sumber : fb