Ubuntu 15.04 Vivid Vervet : Nyoba lagi


Awalnya sangsi saya apa kuat di coba di Vbox under Debian 64 bit.. ternyata ya masih ngangkat juga kok Compiz dan Unity nya … meskipun itu… rada lemot 😀

Ubuntu ternyata ya tetep gitu yak… warna dominan ungu, default wallpaper yang ga nahan (abstraknya :D) sama model nyari aplikasi nya alias Dash nya yang rada ngeselin, musti ngetik 😀

lainnya … standar lha……

oke silahkan nikmati ya 😀

Nilai :
Ubuntu : 7 dari 10
Artistik :6 dari 10
Unity dan Dash :5.5 dari 10
Jalan d VBox : 7 dari 10
Overall : 6 dari 10 (alias buat ubuntu lovers aja :D)

Next read:
https://wiki.ubuntu.com/VividVervet/ReleaseNotes

KaOS 2015.04


Buat pencinta KDE distro satu ini patut dicoba karena emang khususin diri buat KDE Lovers sejati..

Kenapa, karena salah satu distro yang udah berani ngerilis KDE yang pake Plasma 5 terbaru yang baru saja dirilis KDE april ini..

yang beda sih emang KDE itu selalu blink-blink dan yang kebiasa make gnome shell kayak saya agak kikuk dikit sama model desktop yang stack dari KDE.

KaOS 2015.04 lumayan apik mengemas KDE Plasma 5.2.95 dan full KDE Application 15.0.4 serta membuat live cd nya… tapi emang sih ukuran ISO nya jadi gendut  1,6 GB sendiri.. hehehe

yang agak kurang itu pemilihan thema desktop nya yang dominan putih dipadu wallpapers yang juga cerah kadang bikin kurang enak pas butuh ngebaca tulisan di menu nya… Makanya begitu install cepetan ganti tema dengan yang gelap gitu…

kalo saya, masih mikir karena KDE dan KaOS itu yang model Rolling Release itu 😀

monggo dinikmati beberapa jepretan dari saya

Nilai :
artistik : 6 dari 10
Blink desktop : 8 dari 10
KDE : 7 dari 10
Rolling Release : 6 dari 10
Overall : 6,4 dari 10

Next Read :

http://kaosx.us/kaos-iso-2015-04/
https://www.kde.org/announcements/plasma-5.2.95.php

First Glance Gobolinux 015


Gobolinux termasuk salah satu “badboy” di dunia Unix/UnixLike karena mbalelo dari jargon yang udah ditetapkan khususnya di pengaturan berkas nya alias di hirarki filesystem nya yakni melanggar standar yang sudah ada sesuai Filesystem Hierarchi Standard aka FHS…

di Gobo mengadopsi sedikit layaout dari sistem berkas nya MacOS karena ga adalagi itu pohon berkas sesuai FHS yang kayak ini :
/
-/home
-/bin
-/sbin
-/etc
-dll

tapi berkas sistem dikelompokkan berdasarkan fungsinya, nah kalo program ya ditaro di /Program , /System, /Data, /User dll… yang fresh install sistem pemberkasan Gobolinux kayak ini deh :

Filesystem Gobolinux
coba bandingkan sama punya Mac OS X ini :

rada mirip bukan….

nah setelah sekian lama hiatus, tahun 2014 kemarin, Gobolinux mengeluarkan rilis terbarunya yakni yang versi 015 yang mengadopsi Enlightenment 0.18 sebagai default Desktop Manager nya…. cuma ya itu, Gobo hanya menyediakan versi 32 bit aja.
Installnya gimana? gampang kok, Gobolinux 015 udah memanfaatkan livecd sebagai sarana instalasi, tapi emang musti terbiasa dengan cara install berbasis text ncurses yang mirip banget sama punya nya Slackware (yang pernah make slackware pasti ga kesusahan deh) 😀
yah segitu dulu ya? cara instalasi nya menyusul…. sibuk saya wkwkwkwk
 next read :

Tertipu : Edisi Flambe


Saya itu kadang suka coba-coba distro linux yang tidak biasa alias yang ga mainstream, semisal yang make Desktop Environment yang bukan DE yang tidak biasa seperti yang  make WindowMaker atau yang kali ini saya coba make Enlightment rilis terbaru (E19), karena biasanya di distro-distro yang mapan, Enlightment itu paling banter baru E17, yang kalah bling bling jika dibandingkan Gnome 3 atau  KDE.
Nah berdasar list nya distrowatch.com saya jadi nengok web nya flambe.tk katanya make Enlightment 19, akhirnya donlot …. mayan… gede.. 1,7 GB men…
tapi, kok web nya minimalis banget yak? nyimpen di mediafire, terus petunjuk penggunaannya di dropbox, sama petunjuk itu dibuat pake vbox… siap siap deh kuciwa… 😀
setelah donlot… dan coba di vbox… tada…. enelan kuciwa saya….ternyata cuma remasternya PCLOS … 
pas boot udah curigation sih… karena pake default dracut yang bawaannya fedora yang jadi basisnya PCLinuxOS…
pas udah masuk ke desktop… kok ya Enlightment nya ga se wah  punya Bodhy Linux atau elive, bahkan sama punya Gobolinux yang masih E18 aja kalah bling-bling…
pas buka terminology dan ketik uname -a… ternyata oh ternyata…. hehehe
jadi keinget GarudaOS yang dulu bikin heboh rakyat maya Indonesia…
see you
Pros : pake Enlightment 19 yang masih jarang dipaketin distro besar
cons : remaster PCLOS dan tidak punya repo mandiri,  hanya untuk 64 bit, Installer Jumbo, pemaketan E19 masih kurang yahud.

rekomendasi : buat koleksi ISO aja bagi yang kelebihan bandwitdh
sumber :

Screenshoot FlambeOS

CLI : rtorrent, Torrent Client


suka norrent?? apa lagi itu??? 
hobi donlot pelem dari internet?? tentu!! lha kok ga kenal torrent??/donlotnya dari mediafire dan indowebster ya?? hehehe…
padahal kalo mau enak donlot pelem itu ya via torrent, asal ati2 aja donlotnya biar ga menyebarkan virus.Apa sih torrent itu? Secara gampang torrent dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini :
atau liat pidio ini :
Jelaskan?? apa itu torrent dan bittorent protokol??hehe kurang jelas, kita ulas lain waktu… Fokus saya kali ini adalah mengenalkan salah satu client bittorent yang jalan di Debian GNU/Linux dan kebetulan interfacenya CLI. Namanya rtorrent. Kenapa mesti rtorrent?kan ada transmission atau ktorrent atau utorrent kalo ga bittorrent? jawabannya sih rtorrent jalan di shell ga perlu gui, jadi ga butuh banyak librari yang mesti install, dan memang dependensinya cuma dua kok libcurl dan libsigc++ sama ncurses, jadi sangat independen mau install di DE mana aja. Lha kalo transmission di install di KDE, kebayangkan berapa banyak paket yang mesti di install, atau ktorrent mau ente install di DE Gnome, kelamaan install dependensinya dibandingkan mo install klien torrentnya…kecuali ente make GNOME atau KDE dari awal…
gimana installnya?? Gampang kok, tinggal cari di repo masing-masing distro, karena ini paket emang lisensinya GPL, so kalo yang make  .deb tinggal setting repo, terus ketik apt-get install rtorrent… selesai, yang make rpm atau pacman, silahkan merujuk ke masing-masing dokumentasi. Atau kalo mau install dari source code juga boleh kok, tinggal donlot kode sumbernya dari sini libtorrent.rakshasa
Makenya juga ga kalah mudah kok, tinggal donlot file .torrent nya, terus buka terminal ketik rtorrent alamat-file terus enter …. jalan deh… tinggal nunggu selesai donlotnya, tapi itu tergantung berapa banyak seeder dan benwit ente….. jalannya kek ini nih….

oke… selamat mencoba ….
next read :
2. support by faihana-store.com

Sprei dan Bedcover Karakter Lucu… Mau???
untuk info dan pemesanan hubungi
SMS atau WhatsApp 083872303254
Reseller Welcome

GNOME 3 Alternative Shell



Yang make linux pasti kenal dengan istilah Gnome, KDE, XFCE, Desktop Environment, WM… Nah, kali ini kita membahas salah satu lingkungan desktop  linux yang populer dipake yakni GNOME alias GNU Object Model Environment. GNOME dibangun diatas platform GTK (GIMP Tool Kit) dan awalnya digawangi oleh Michael de Icaza dan Francesco Mena. GNOME saat ini sudah rilis versi GNOME 3.8, nah, dari versi 2 ke versi 3, terjadi perubahan besar dalam GNOME, yakni menyangkut user interfacenya dan window manager yang digunakan. Dari yang model stack desktop dengan panel atas, menjadi konsep all in one desktop, yang kemudian di tiru oleh Microsoft dengan Windows 8 nya. Nah, karena perubahan user interface dan Window Manager, dari Metacity ke Mutter ini, banyak pengembang distribusi linux memilih untuk mengembangkan sendiri shell ( user interface untuk GNOME 3) dan meninggalkan shell bawaan GNOME 3 yakni GNOME shel.

Paling tidak, ada beberapa pilihan shell yang ada untuk Desktop Environment berbasis GNOME 3, yakni :

  • Gnome Shell
Merupakan shell bawaan GNOME 3, mengenalkan konsep all in one desktop, semua fitur dapat di akses dalam satu layar. Alhasil, kemudahan melakukan kustomisasi sperti halnya di GNOME 2, menjadi berkurang. Cuma, untuk yang pernah install Gnome Shell sebelum GNOME 3 dirilis, shell ini adalah idaman., termasuk saya.. hehehe…
Memang sih, mutter sebagai WM bawaan dari GNOME 3 musti mensyaratkan hardware vga card yang lumayan mumpuni, dan ini sebenarnya sudah terpenuhi dengan hardware sekarang. kecuali, untuk vga card yang tidak menyediakan firmware untuk linux semacam SIS. tentunya akan ribet.
Alhasil tidak banyak distro linux yang menyertakan GNOME 3 dan Gnome Shell sebagai default DE nya, salah stu pilihan adalah Debian. Kayak apa tampilan GNOME 3 dan Gnome Shellnya?? silahkan merujuk ke postingan ini Gnome Shell di Wheezy
  • Pear OS Shell
Sebenarnya Pear OS Shell adalah salah satu shell yang cantik. Membuat terbuai dengan tampilan ala MacOS plus docky yang ciamik. Cuma emang Pear OS, tidak membuka kode sumbernya.. padahal ini kan cuma remaster dari Ubuntu.. seharusnya perubahan yang dibikin juga harus sertakan juga kode sumbernya, jadi kita ga bisa/belum bisa nginstall ini shell di distro selain Pear… Mau liat kayak apa tampilannya??? Check this link guys… PearOS
  • Manokwari
Nah, kalo ini User Interface pengembangan dari Blankon Panel… ga heran kan namanya juga sangat Indonesia…
Manokwari juga merupakan salah satu shell yang cukup inovatif, karena di garap menggunakan html5, diatas library gnome3. First glance, cukup ringan, dan mengingatkan kita pada tampilan standar Gnome 2.
Karena dibangun dengan menggunakan HTML5, maka, Manokwari juga jadi gampang di kustom, asal ngerti HTML5. Mau coba, nih tema buatan pengembang Blankon beserta cara installnya…linen.
Memang, sih… tampilan menunya agak boros gitu, ngabisin space di samping gitu….nah silahkan nikmati salah satu buatan anak negeri…

  • Cinnamon
Cinnamon muncul disebabkan juga oleh perubahan UI Gnome 3, yang berujung pada lahirnya Unity sebagai default UI di Ubuntu. Karena LinuxMint merupakan distro turunan Ubuntu, secara otomatis pengembang LinuxMint harus memilih, menggunakan Gnome Shell atau Unity sebagai antar muka bagi distro bawaannya.
Tetapi, LinuxMint memilih melakukan forking gnome 2 dan memulai DE baru berama MATE, dan kemudian mengenalkan Cinnamon sebagai UI standar untuk LinuxMint yang berbasis GNOME 3, selain pilihan DE yang lain.
Cinnamon sebagian besar dibangun dengan menggunakan bahasa C, dan saat ini sudah rilis 1.8. Cinnamon juga mengadopsi pendekatan KDE dalam hal penyediaan perangkat kecil sebagai pemanis di desktop dan mempermudah proses kustomisasi desktop melalui desklet dan spices.
Kedepan, Cinnamon dapat saja menjadi DE yang  dependen, mengingat hampir semua komponen GNOME 3 sudah di forking kedalam Cinnamon… nah berikut ini adalah sedikit tampilan standar Cinnamon di Linuxmint 15.
Reviu lengkap LinuxMint Olivia yang make Cinnamon silahkan main kemari Dodeimedo
  • Unity
Unity adalah UI shell diatas GNOME 3, menggantikan standar UI nya GNOME 3, tetapi dengan memilih menggunakan window manager Compiz. Unity mengenalkan juga ayatana, sebagai jembatan antara user interface dengan GNOME 3 platform. Diatas inilah unity mengembangkan tampilan unity sebagaimana kita jumpai di standar ubuntu sekarang.
fitur utama Unity adalah Dash, Launcher, dan notif bar yang memang rada beda dengan Gnome Shell… berikut ini adalah screenshoot unity..

nah, segitu dulu… sebenernya ada satu lagi sih… Pantheon, yang akan jadi UI standar nya elementaryOS, tapi berhubung masih beda kita tunda dulu aja ya…:D tapi berikut ini adalah SS dari Pantheon

SOS : Rescue Using Testdisk, Photorec, dan Foremost


  
Ada kalanya kita harus mempersiapkan diri dengan kondisi yang tak terduga, dan kali ini ketika partisi harddisk anda secara tidak sengaja terhapus..Apa yang akan anda lakukan?? Menyesali diri, atau mencari alternatif penyelesaian?Kalo kasus saya sih yang terhapus ga seberapa sih? cuman kalo misalnya yang terhapus itu data skripsi anda? Nah lho…. langkah preventifnya adalah secara berkala melakukan proses back-up ke media penyimpan lain, atau unggah ke layanan cloud.Kalo, enggak, coba lakukan proses recovery data menggunakan perangkat yang tersedia, yakni testdisk, photorec, dan foremost.
Nah, itukan perangkat di linux… iya, karena memang dalam prosesnya saya menggunakan Blankon 8 Rote Live CD….
Nah, caranya sebagai berikut ini :
  1. Pastikan partisi yang terhapus/terformat belum ditulis ulang, sehingga masih memungkinkan untuk memperoleh data yang terformat.
  2. siapkan livecd/liveusb nya
  3. booting via livecd/liveusb, dan jangan lupa siapkan koneksi internet atau paket testdisk,testdisk-bdg, dan foremost dari repo blankon, karena biasanya tidak tersedia di livecd/liveusb ISO nya
  4. install testdisk, testdisk-dbg, dan foremost
  5. setelah siap, jalankan testdisknya, dengan mengetik testdisk di terminal menggunakan gakewenangan sebagai superuser.
  6. ikutin perintahnya dan tunggu sampe selesai proses recoverynya.pengalaman sih akan membentuk banyak folder bernama recup dan isinya macem-macem, kalo tidak dibatasi apa yang akan direcovery, atau istilahnya kalau kita menggunakan metode brute force, alias recovery seluruh harddisk. Kalo mau spesifik, isi aja di bagian option, apa yang mau di recovery, file JPG misalnya.
  7. Mengapa harus menggunakan Live CD, ini untuk memudahkan proses aja, dan menjamin kalau partisi yang terformat/terhapus tidak tertimpa proses read/write dan meningkatkan persentase keberhasilan recovery, kalo dual boot dan masih ada linux yang berfungsi, serta grubnya ga rusak, coba pake linux tersebut juga ga masalah…
oke… happy recovery…. tutorial makenya nanti ya hehe

Review : Pear OS 7, Gnome 3 Shell


Pernah denger Pear OS ga???kalo ga tau sini tak kasih tahu…hehehe…. sorry becanda… maklum bikin postingan blog ini tengah malam… ehehe…
Serius pernah dengar ga Pear OS???? Kalo Mac Os? atau Windows 8? Debian GNU/Linux?Kalo Ubuntu?? Nah itu dia, Pear OS itu turunan alias anaknya Ubuntu, yakni pengembang Pear OS yang bule Prancis ini ngambil kode sumbernya Ubuntu Linux terus di permak macem-macem, terus di beri nama Pear OS?? gitu deh… hehehe
Terus bedanya apa dong sama Ubuntu GNU/Linux? ya beda dong, lha wong yang ngembangin juga beda….ehehe becanda lagi… perbedaan utamanya itu ada di tujuan dari pengembangan Pear OS. Nah lho, Pear OS bertujuan membuat distro (apalagi ini istilah) berbasis Ubuntu yang menyerupai keindahan dan kemudahan MacOS.. ini menurut saya lho, karena memang antar muka grafisnya plek mirip banget MacOS, bedanya ini Pear OS, dan tampilannya itu cuma shell dari gnome 3 yang jadi Desktop Environmentnya.
Pear OS shell (shellnya Pear OS) ini juga yang menjadi pembeda utama antar muka grafis antara Pear OS dan Ubuntu yang memakai Unity sebagai shellnya. Elemen penting dari Pear OS yang tidak ada di Unity adalah adanya panel di bagian bawah layar yang mirip banget dengan panelnya MacOS. 
yang lain adalah adanya Welcome help yang nunjukin cara make antar mukanya Pear, terus yang agak beda juga adanya tool tweak khusus yang digunakan untuk memudahkan pengguna mengakses repo ppa nya Pear OS dan beberapa fungsi lain, seperti untuk membersihkan berkas-berkas yang sudah ga berguna di sistem.
Yang paling menarik tentunya Pear OS shellnya, karena shell nya ini paling mendekati tampilan standar Gnome Shell yang menjadi bawaan di Gnome 3. Tidak seperti Unity atau Cinnamonnya Mint yang sangat berbeda dengan gnome shell.
Memang sih, paket asli bawaan dari Pear OS kadang-kadang masih nge-crash tetapi untuk penggunaan standar sehar-hari (ngetik, ngenet, game ringan) masih sangat cukup memadai…
ohya, kalo pengen nyoba, jangan lupa ISO cd nya Pear OS lumayan gendut sekitar 1 GB lebih, dan karena ini make Gnome 3, usahakan chip VGA ente lumayan mumpuni, kalo ga ya, kena fallback mode yang secara estetika kurang nyamleng gitu…misalnya kalo nyoba di virtualbox..
oke … pengen liat kayak apa tampilanya??? liat di pesbuk aja ya…disini https://www.facebook.com/media/set/?set=a.4694298035332.1073741827.1230482324&type=1
Next read :
PearOS
supported by faihana-store.com

Mau Cantik plus  dapet duit????
hubungi
inbox FB https://www.facebook.com/andiri.rumanggar
inbox FP https://www.facebook.com/AttaqisGallery
SMS atau WhatsApp 083872303254

WELLCOME TO RESELLER

Dualboot Windows dan Ubuntu 11.04


Postingan ini ditujukan untuk saya berbagi sesama pemula linux yg ingin mengenal linux dengan cara dualboot Ubuntu dengan Windows yg sudah terlebih dahulu terinstall.

Ubuntu 11.04 Natty Narwhal

Langkah – langkah Dualboot Linux dan Windows:

1. Pastikan Windows anda sudah terinstall, dan jangan lupa siapkan dua partisi baru untuk instalasi Linux anda. satu partisi ukuran 1 gb untuk swap. dan 1 partisi besar diatas 10 gb untuk ubuntu

2. Boot LiveCD/USB, kemudian pilih Try Ubuntu

3. Desktop Live Ubuntu Natty

Jika VGA anda support 3D pada mode live maka anda akan mendapatkan tampilan desktop seperti gambar pertama di atas. Namun jika tidak anda akan akan mendapatkan tampilan klasik.

Jangan khawatir, setelah Ubuntu Natty terinstall ke hard disk kita bisa langsung menginstall driver VGA sehingga kita bisa menikmati desktop baru Ubuntu seperti diatas yg dinamakan Unity.

4. Menyiapkan Partisi Untuk Instalasi Ubuntu.

Untuk mengatur partisi kita menggunakan aplikasi bernama gparted yg sudah tersedia di Ubuntu Live-CD.

Jika anda mendapatkan desktop Unity tinggal klik menu kemudian cari gparted.

Pertama yg perlu kita lakukan adalah memformat partisi yg sudah kita siapkan untuk instalasi menjadi partisi extended.

Klik kanan partisi tersebut kemudian klik New. Akan muncul jendela dialog…

5. Membuat Partisi swap dan ext4

Kita sudah membuat Partisi Extended namun masih unallocated. Di sana kita akan membuat partisi yg diperlukan untuk instalasi Ubuntu.

swap

Partisi ext4 untuk / (root)

Klik kanan pada partisi unallocated, pilih New. Akan muncul dialog box

Ubah ukuran partisi dengan menggeser slider pada grafik ke arah kiri sehingga mendapatkan ukuran yg diinginkan. Bisa juga dengan mengetikkan ukuran yg dimau (dalam MB) pada bagian New Size. Pada contoh saya membuat ukuran partisi ext4 25853 MiB (25 GiB)

Pada bagian File System klik, kemudian pilih ext4.Kita bisa juga memberi label, pada partisi tersebut. Di gambar saya memberi label Natty.

Kalau sudah klik Add. Kita akan kembali ke jendela utama gparted.

Kita tinggal menerapkan partisi yg kita buat dengan mengklik icon check yg ada di menu bar

Persiapan partisi sudah selesai.

6. Proses Instalasi Ubuntu

Klik Ganda icon Install Ubuntu yg ada di desktop, maka akan muncul jendela instalasi Ubuntu

Klik Forward                     Z

Muncul jendela yg menginformasikan agar kita:

Memiliki setidaknya ruang hard disk sebesar 4.4 GB.

Terhubung ke sumber listrik. Disarankan untuk pengguna notebook agar menggunakan charger saat menginstall agar tidak terputus tiba2 karena kehabisan daya baterai.

Terhubung ke internet. Tapi bagi saya lebih baik tidak terhubung ke internet agar proses instalasi selesai lebih cepat. Karena apabila kita terhubung ke internet maka Ubuntu akan berusaha mendapatkan update, akan memakan waktu apalagi untuk yg koneksi internetnya lambat.

Di bawah ada 2 pilihan yg bisa dicentang bila kita terhubung ke internet, tapi buat saya lebih baik tidak di centang karena kedua hal tersebut bisa kita lakukan dengan mudah setelah Ubuntu terinstall.

Klik Forward.

Di jendela berikutnya kita akan diberi 3 pilihan Instalasi Ubuntu:

Install Ubuntu Alongside Them. Pilihan ini adalah untuk yg tidak ingin menyiapkan partisi sendiri tapi dibuatkan secara otomatis oleh installer Ubuntu.

Erase Disk and Install Ubuntu. Pilihan ini akan menghapus seluruh isi hard disk kemudian menginstall Ubuntu pada disk tersebut. Pilihan ini bisa dipakai pada hard disk baru/kosong.

Something Else. Dengan pilihan ini kita dengan leluasa menentukan lokasi dan ukuran partisi untuk instalasi Ubuntu. Pilihan inilah yg kita pakai!

Pilih Something Else, kemudian klik Forward.

Akan muncul jendela yg menampilkan tabel partisi. Disana kita bisa lihat partisi2 hard disk yg kita punya termasuk dua partisi yg sudah kita siapkan sebelumnya, yaitu swap dan ext4.

Hard Disk saya terbaca sebagai sdb karena saya menggunakan dua hard disk pada PC. Bila anda menggunakan notebook atau satu hard disk saja maka hard disk anda akan terbaca sebagai sda. Sama saja

Yg perlu kita lakukan adalah menentukan mount point (fungsi) dari partisi ext4 saja. Partisi yg lain jangan disentuh! Partisi swap pun tidak perlu kita sentuh karena otomatis akan terdetek.

Klik pada partisi ext4, kemudian klik Change.

Akan muncul jendela dialog:

Use As: Ext4 Journaling File System

Format The Partition: Pilih Format

Mount Point: Pilih /

Kalau sudah klik OK.

Persiapan partisi sudah selesai. Tidak perlu mengubah bagian lain. Klik Install Now.

7. Mengisi Data Personal

Klik pada map dimana lokasi anda berada, pada contoh saya memilih Jakarta.

Keyboard Layout. Pilih saja default yaitu USA

Kita ditawarkan untuk mengimport user account, tapi karena sebelumnya kita tidak memiliki instalasi Ubuntu langsung klik Forward.

Selanjutnya kita tinggal mengisikan nama dan password yg mau kita gunakan. Ingat jangan menggunakan huruf kapital pada User Name!.

7. Finishing Installation.

Instalasi akan selesai beberapa saat lagi, sambil menunggu silakan nikmati slideshow yg mengenalkan beberapa fitur Ubuntu.

Saat proses instalasi Ubuntu selesai akan muncul pop up window yg menginformasikan. Klik Restart.