Ubuntu 15.04 Vivid Vervet : Nyoba lagi


Awalnya sangsi saya apa kuat di coba di Vbox under Debian 64 bit.. ternyata ya masih ngangkat juga kok Compiz dan Unity nya … meskipun itu… rada lemot 😀

Ubuntu ternyata ya tetep gitu yak… warna dominan ungu, default wallpaper yang ga nahan (abstraknya :D) sama model nyari aplikasi nya alias Dash nya yang rada ngeselin, musti ngetik 😀

lainnya … standar lha……

oke silahkan nikmati ya 😀

Nilai :
Ubuntu : 7 dari 10
Artistik :6 dari 10
Unity dan Dash :5.5 dari 10
Jalan d VBox : 7 dari 10
Overall : 6 dari 10 (alias buat ubuntu lovers aja :D)

Next read:
https://wiki.ubuntu.com/VividVervet/ReleaseNotes

KaOS 2015.04


Buat pencinta KDE distro satu ini patut dicoba karena emang khususin diri buat KDE Lovers sejati..

Kenapa, karena salah satu distro yang udah berani ngerilis KDE yang pake Plasma 5 terbaru yang baru saja dirilis KDE april ini..

yang beda sih emang KDE itu selalu blink-blink dan yang kebiasa make gnome shell kayak saya agak kikuk dikit sama model desktop yang stack dari KDE.

KaOS 2015.04 lumayan apik mengemas KDE Plasma 5.2.95 dan full KDE Application 15.0.4 serta membuat live cd nya… tapi emang sih ukuran ISO nya jadi gendut  1,6 GB sendiri.. hehehe

yang agak kurang itu pemilihan thema desktop nya yang dominan putih dipadu wallpapers yang juga cerah kadang bikin kurang enak pas butuh ngebaca tulisan di menu nya… Makanya begitu install cepetan ganti tema dengan yang gelap gitu…

kalo saya, masih mikir karena KDE dan KaOS itu yang model Rolling Release itu 😀

monggo dinikmati beberapa jepretan dari saya

Nilai :
artistik : 6 dari 10
Blink desktop : 8 dari 10
KDE : 7 dari 10
Rolling Release : 6 dari 10
Overall : 6,4 dari 10

Next Read :

http://kaosx.us/kaos-iso-2015-04/
https://www.kde.org/announcements/plasma-5.2.95.php

First Glance Gobolinux 015


Gobolinux termasuk salah satu “badboy” di dunia Unix/UnixLike karena mbalelo dari jargon yang udah ditetapkan khususnya di pengaturan berkas nya alias di hirarki filesystem nya yakni melanggar standar yang sudah ada sesuai Filesystem Hierarchi Standard aka FHS…

di Gobo mengadopsi sedikit layaout dari sistem berkas nya MacOS karena ga adalagi itu pohon berkas sesuai FHS yang kayak ini :
/
-/home
-/bin
-/sbin
-/etc
-dll

tapi berkas sistem dikelompokkan berdasarkan fungsinya, nah kalo program ya ditaro di /Program , /System, /Data, /User dll… yang fresh install sistem pemberkasan Gobolinux kayak ini deh :

Filesystem Gobolinux
coba bandingkan sama punya Mac OS X ini :

rada mirip bukan….

nah setelah sekian lama hiatus, tahun 2014 kemarin, Gobolinux mengeluarkan rilis terbarunya yakni yang versi 015 yang mengadopsi Enlightenment 0.18 sebagai default Desktop Manager nya…. cuma ya itu, Gobo hanya menyediakan versi 32 bit aja.
Installnya gimana? gampang kok, Gobolinux 015 udah memanfaatkan livecd sebagai sarana instalasi, tapi emang musti terbiasa dengan cara install berbasis text ncurses yang mirip banget sama punya nya Slackware (yang pernah make slackware pasti ga kesusahan deh) 😀
yah segitu dulu ya? cara instalasi nya menyusul…. sibuk saya wkwkwkwk
 next read :

Tertipu : Edisi Flambe


Saya itu kadang suka coba-coba distro linux yang tidak biasa alias yang ga mainstream, semisal yang make Desktop Environment yang bukan DE yang tidak biasa seperti yang  make WindowMaker atau yang kali ini saya coba make Enlightment rilis terbaru (E19), karena biasanya di distro-distro yang mapan, Enlightment itu paling banter baru E17, yang kalah bling bling jika dibandingkan Gnome 3 atau  KDE.
Nah berdasar list nya distrowatch.com saya jadi nengok web nya flambe.tk katanya make Enlightment 19, akhirnya donlot …. mayan… gede.. 1,7 GB men…
tapi, kok web nya minimalis banget yak? nyimpen di mediafire, terus petunjuk penggunaannya di dropbox, sama petunjuk itu dibuat pake vbox… siap siap deh kuciwa… 😀
setelah donlot… dan coba di vbox… tada…. enelan kuciwa saya….ternyata cuma remasternya PCLOS … 
pas boot udah curigation sih… karena pake default dracut yang bawaannya fedora yang jadi basisnya PCLinuxOS…
pas udah masuk ke desktop… kok ya Enlightment nya ga se wah  punya Bodhy Linux atau elive, bahkan sama punya Gobolinux yang masih E18 aja kalah bling-bling…
pas buka terminology dan ketik uname -a… ternyata oh ternyata…. hehehe
jadi keinget GarudaOS yang dulu bikin heboh rakyat maya Indonesia…
see you
Pros : pake Enlightment 19 yang masih jarang dipaketin distro besar
cons : remaster PCLOS dan tidak punya repo mandiri,  hanya untuk 64 bit, Installer Jumbo, pemaketan E19 masih kurang yahud.

rekomendasi : buat koleksi ISO aja bagi yang kelebihan bandwitdh
sumber :

Screenshoot FlambeOS

CLI : rtorrent, Torrent Client


suka norrent?? apa lagi itu??? 
hobi donlot pelem dari internet?? tentu!! lha kok ga kenal torrent??/donlotnya dari mediafire dan indowebster ya?? hehehe…
padahal kalo mau enak donlot pelem itu ya via torrent, asal ati2 aja donlotnya biar ga menyebarkan virus.Apa sih torrent itu? Secara gampang torrent dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini :
atau liat pidio ini :
Jelaskan?? apa itu torrent dan bittorent protokol??hehe kurang jelas, kita ulas lain waktu… Fokus saya kali ini adalah mengenalkan salah satu client bittorent yang jalan di Debian GNU/Linux dan kebetulan interfacenya CLI. Namanya rtorrent. Kenapa mesti rtorrent?kan ada transmission atau ktorrent atau utorrent kalo ga bittorrent? jawabannya sih rtorrent jalan di shell ga perlu gui, jadi ga butuh banyak librari yang mesti install, dan memang dependensinya cuma dua kok libcurl dan libsigc++ sama ncurses, jadi sangat independen mau install di DE mana aja. Lha kalo transmission di install di KDE, kebayangkan berapa banyak paket yang mesti di install, atau ktorrent mau ente install di DE Gnome, kelamaan install dependensinya dibandingkan mo install klien torrentnya…kecuali ente make GNOME atau KDE dari awal…
gimana installnya?? Gampang kok, tinggal cari di repo masing-masing distro, karena ini paket emang lisensinya GPL, so kalo yang make  .deb tinggal setting repo, terus ketik apt-get install rtorrent… selesai, yang make rpm atau pacman, silahkan merujuk ke masing-masing dokumentasi. Atau kalo mau install dari source code juga boleh kok, tinggal donlot kode sumbernya dari sini libtorrent.rakshasa
Makenya juga ga kalah mudah kok, tinggal donlot file .torrent nya, terus buka terminal ketik rtorrent alamat-file terus enter …. jalan deh… tinggal nunggu selesai donlotnya, tapi itu tergantung berapa banyak seeder dan benwit ente….. jalannya kek ini nih….

oke… selamat mencoba ….
next read :
2. support by faihana-store.com

Sprei dan Bedcover Karakter Lucu… Mau???
untuk info dan pemesanan hubungi
SMS atau WhatsApp 083872303254
Reseller Welcome

GNOME 3 Alternative Shell



Yang make linux pasti kenal dengan istilah Gnome, KDE, XFCE, Desktop Environment, WM… Nah, kali ini kita membahas salah satu lingkungan desktop  linux yang populer dipake yakni GNOME alias GNU Object Model Environment. GNOME dibangun diatas platform GTK (GIMP Tool Kit) dan awalnya digawangi oleh Michael de Icaza dan Francesco Mena. GNOME saat ini sudah rilis versi GNOME 3.8, nah, dari versi 2 ke versi 3, terjadi perubahan besar dalam GNOME, yakni menyangkut user interfacenya dan window manager yang digunakan. Dari yang model stack desktop dengan panel atas, menjadi konsep all in one desktop, yang kemudian di tiru oleh Microsoft dengan Windows 8 nya. Nah, karena perubahan user interface dan Window Manager, dari Metacity ke Mutter ini, banyak pengembang distribusi linux memilih untuk mengembangkan sendiri shell ( user interface untuk GNOME 3) dan meninggalkan shell bawaan GNOME 3 yakni GNOME shel.

Paling tidak, ada beberapa pilihan shell yang ada untuk Desktop Environment berbasis GNOME 3, yakni :

  • Gnome Shell
Merupakan shell bawaan GNOME 3, mengenalkan konsep all in one desktop, semua fitur dapat di akses dalam satu layar. Alhasil, kemudahan melakukan kustomisasi sperti halnya di GNOME 2, menjadi berkurang. Cuma, untuk yang pernah install Gnome Shell sebelum GNOME 3 dirilis, shell ini adalah idaman., termasuk saya.. hehehe…
Memang sih, mutter sebagai WM bawaan dari GNOME 3 musti mensyaratkan hardware vga card yang lumayan mumpuni, dan ini sebenarnya sudah terpenuhi dengan hardware sekarang. kecuali, untuk vga card yang tidak menyediakan firmware untuk linux semacam SIS. tentunya akan ribet.
Alhasil tidak banyak distro linux yang menyertakan GNOME 3 dan Gnome Shell sebagai default DE nya, salah stu pilihan adalah Debian. Kayak apa tampilan GNOME 3 dan Gnome Shellnya?? silahkan merujuk ke postingan ini Gnome Shell di Wheezy
  • Pear OS Shell
Sebenarnya Pear OS Shell adalah salah satu shell yang cantik. Membuat terbuai dengan tampilan ala MacOS plus docky yang ciamik. Cuma emang Pear OS, tidak membuka kode sumbernya.. padahal ini kan cuma remaster dari Ubuntu.. seharusnya perubahan yang dibikin juga harus sertakan juga kode sumbernya, jadi kita ga bisa/belum bisa nginstall ini shell di distro selain Pear… Mau liat kayak apa tampilannya??? Check this link guys… PearOS
  • Manokwari
Nah, kalo ini User Interface pengembangan dari Blankon Panel… ga heran kan namanya juga sangat Indonesia…
Manokwari juga merupakan salah satu shell yang cukup inovatif, karena di garap menggunakan html5, diatas library gnome3. First glance, cukup ringan, dan mengingatkan kita pada tampilan standar Gnome 2.
Karena dibangun dengan menggunakan HTML5, maka, Manokwari juga jadi gampang di kustom, asal ngerti HTML5. Mau coba, nih tema buatan pengembang Blankon beserta cara installnya…linen.
Memang, sih… tampilan menunya agak boros gitu, ngabisin space di samping gitu….nah silahkan nikmati salah satu buatan anak negeri…

  • Cinnamon
Cinnamon muncul disebabkan juga oleh perubahan UI Gnome 3, yang berujung pada lahirnya Unity sebagai default UI di Ubuntu. Karena LinuxMint merupakan distro turunan Ubuntu, secara otomatis pengembang LinuxMint harus memilih, menggunakan Gnome Shell atau Unity sebagai antar muka bagi distro bawaannya.
Tetapi, LinuxMint memilih melakukan forking gnome 2 dan memulai DE baru berama MATE, dan kemudian mengenalkan Cinnamon sebagai UI standar untuk LinuxMint yang berbasis GNOME 3, selain pilihan DE yang lain.
Cinnamon sebagian besar dibangun dengan menggunakan bahasa C, dan saat ini sudah rilis 1.8. Cinnamon juga mengadopsi pendekatan KDE dalam hal penyediaan perangkat kecil sebagai pemanis di desktop dan mempermudah proses kustomisasi desktop melalui desklet dan spices.
Kedepan, Cinnamon dapat saja menjadi DE yang  dependen, mengingat hampir semua komponen GNOME 3 sudah di forking kedalam Cinnamon… nah berikut ini adalah sedikit tampilan standar Cinnamon di Linuxmint 15.
Reviu lengkap LinuxMint Olivia yang make Cinnamon silahkan main kemari Dodeimedo
  • Unity
Unity adalah UI shell diatas GNOME 3, menggantikan standar UI nya GNOME 3, tetapi dengan memilih menggunakan window manager Compiz. Unity mengenalkan juga ayatana, sebagai jembatan antara user interface dengan GNOME 3 platform. Diatas inilah unity mengembangkan tampilan unity sebagaimana kita jumpai di standar ubuntu sekarang.
fitur utama Unity adalah Dash, Launcher, dan notif bar yang memang rada beda dengan Gnome Shell… berikut ini adalah screenshoot unity..

nah, segitu dulu… sebenernya ada satu lagi sih… Pantheon, yang akan jadi UI standar nya elementaryOS, tapi berhubung masih beda kita tunda dulu aja ya…:D tapi berikut ini adalah SS dari Pantheon