Pelajaran dari Matinya PearOS


Goodbye
Salah satu distro Linux yang cukup inovatif dan kontroversial tutup tirai alias mati.(Kalo kata developernya -david tavares, proyeknya dibeli oleh perusahaan gede). Untung saja, saya cuma sesekali nyobain antar muka nya PearOS yang emang lumayan asyik itu.Tetapi, saya emang kurang sreg sama pengembang PearOS yang tidak menyediakan kode sumber dari proyeknya, padahal itu basisnya kan semuanya kebanyakan lisensinya GPL yang artinya mesti menyediakan kode sumbernya secara bebas.
Nah, sebenarnya ini adalah salah satu pelajaran berharga bagi aktivis open source secara umum dan GNU/Linux khususnya, pilih-pilih proyek mana yang mau bergabung dan sangat khusus untuk pengguna distro gnu/linux, pilih-pilih distro yang akan anda gunakan sebagai pilihan OS sehari-hari anda. Jangan pilih model PearOS ini, yang tiba-tiba menghilang tanpa ada juntrungannya.
Matinya Pear OS ini juga mengingatkan saya akan GarudaOS yang mengklaim sebagai OS buatan Anak Bangsa, meskipun dalam kenyataannya hanyalah remastering dari PCLinuxOS Fullmonty Edition. 
Untuk menghindari kasus seperti ini, sebagai pengguna akhir linux, hati-hatilah ketika memilih distro linux, pilihlah distro Gnu/Linux yang basis pengembangannya tidak personal, tetapi ada badan hukum yang kuat, pilih lah Distro Gnu/Linux yang punya repositori sendiri, jangan hanya sekedar remastering saja, pilihlah distro yang penggunanya banyak, dan yang terakhir pilihlah Debian sebagai pilihan terakhir anda … :nah lho…
next read :
gambar juga dari itworld

Monitoring Suhu di Debian Wheezy Part III : Psensor dan xsensors


grafik psensor
Kalo sekedar memonitor suhu mesin, menggunakan antarmuka xsensor atau psensor sebenarnya lebih dari cukup. Terutama psensor yang juga dapat digunakan di sisi server yang dapat digunakan untuk memonitor suhu server secara remote dari client. Tapi ya itu, ini hanya dapat digunakan untuk memonitor suhu dan load dari CPU, ga bisa yang lain.

Kalo xsensor hanyalah antarmuka grafis dari paket sensor yang menjadi prasyarat semua paket yang berhubungan dengan monitoring suhu di mesin debain anda.

Kalo mau install psensor atau xsensor sih sangat gampang, tinggal setting repo debian aja, karena keduanya emang udah masuk ke repo debian terus gunakan apt-get install untuk melakukan instalasi. Tentunya udah melakukan setting sensornya sesuai dengan postingan ini. Kalos sudah tinggal ketikkan apt-get install psensor xsensors . Otomatis akan melakukan instalasi beberapa paket  yang dibutuhkan termasuk hddtemp dll.

kalo udah, tinggal jalanin aja psensor lewat menu. hasilnya kayak gambar diatas.

 Kalo xsensors, persis sama hasil dari perintah sensors kalo via terminal, tapi ini dijalanin di lingkungan antarmuka grafis. hasilnya hanya menampilkan suhu sesuai dengan sensor yang ada di sistem. Hasilnya seperti gambar berikut ini :

 

Monitoring Suhu di Debian Wheezy part II : Gkrellm


Melanjutkan postingan tentang monitoring suhu di Debian, kali ini kita memanfaatkan salah satu aplikasi monitor yang udah agak terlupakan oleh para pengguna Linux yakni gkrellm.Emang sih, tampilan bawaannya agak kurang manis dibandingkan conky yang udah dipermak, tetapi jika hanya untuk memudahkan memonitor besarnya suhu penting di laptop, gkrellm lebih dari cukup. Kelebihannya dibandingkan ektensi dari gnome-shell adalah, gkrellm tidak tergantung dengan harus memakai gnome shell, tetapi sebagai paket aplikasi berdiri sendiri, gkrellm dapat digunakan hampir di semua DE dan WM, asal dependensinya terpenuhi.
enaknya lagi, gkrellm itu masuk di repo resmi mba Debi, jadi tinggal mengetik mantra sakti “apt-get
install gkrellm”, dan tentunya punya koneksi internet, lalu nunggu sampai gkrellm muncul di menu aplikasinya.. udah selesai… tinggal menambahkan ini itu, kalo membutuhkan plugin atau tema, tinggal nyari di internet atau untuk beberapa plugin ada di reponya debian, tinggal cari menggunakan apt-cache search..
Nah, sekarang tinggal melakukan konfigurasi, dan menambahkan themes atau plugin kalau perlu. Kalo cuma monitor suhu aja, ga perlu nambah plugin lagi, tinggal gunakan fungsi yang udah built in di gkrellm. yang penting, lmsensors dan sensord udah ente konfigurasi sesuai dengan postingan terdahulu.
Pertama kali ngejalanin gkrellm, ente pasti disambut sama pemberitahuan seperti ini 
ya, gampang toh,mengatur konfigurasinya, tinggal klik kanan di jendela gkrellm paling atas atau kalo ga bisa klik kanan, tinggal taro mouse di ujung atas jendela dan pencet F1, maka akan muncul jendela baru yang isinya bagaimana ente mo melakukan konfigurasi, nambah plugin atau ganti tema.setelah itu, tinggal klik built-in>>sensors>>dan centang enable di Temperatures, klo di kasus ane ada tiga jenis… udah gitu, nanti otomatis akan muncul besaran suhu di jendela utama gkrellm.
dan inilah jendela utama gkrellm, tanpa penambahan plugin dan themes …
Misi tercapai bukan, ada monitoring suhunya…. hehehe…
eh… kurang menarik ya?kan dari awal sudah saya sebutkan kalo tampilan standarnya gkrellm itu emang kurang caem… hehe… perlu di permak make plugin tambahan semacam monitoring cuaca, dan tema yang caem kaya ini..
Di jendela gkrellm diatas, saya menggunakan tema invinsible dari muhri.net dan nambah plugin cuaca. nah kalo mau yang begono, mesti  nambah install plugin dan tema. Baiknya, beberapa plugin gkrellm ada di repo kok termasuk plugin cuaca yang saya pajang. tinggal install pake apt-get install gkrellweather, nah kalo tema invinsible donlot aja dari muhri.net, terus ekstrak dan taro di folder /home/nama_mu/.gkrellm2/themes. Jika udah, restart gkrellm dan masuk ke jendela konfigurasi. aktikan plugin di plugin>>enable, dan pilih tema, di tab themes>> invinsible. dan tada…. gkrellm jadi lebih cantik. Untuk plugin cuaca, emang ada beberapa opsi yang bisa di pilih semisal ukuran suhu udara, lokasi dll..cuma itu terserah anda aja…hehehe..
oke, kalo kurang cantik lagi silahkan ubek2 internet, masih ada beberapa arsip yang mempunyai tema gkrellm kok… selamat mencoba…
sumber : 
  1. muhri.net
  2. http://themes.effx.us/packages/gkrellm2/

Oracle : Ngejalanin Oracle EBS di Debian Jessie Pake Chrome


Tahu ga sih, kalo Oracle itu bikin aplikasi ERP berbasis Java tapi clientnya mintanya mesti make browser Internet Explorer. Ga mau dia kalo dibuka di browser di GNU/Linux, di Iceweasel atau Chrome misalnya, pasti beribet. Masuk sih ke tampilan webnya, tapi Oracle E-Bussiness Suite itu memakai dua buah antar muka, satu berbasis web, satunya mesti make applet yang memanfaatkan Java Virtual Machine (JRE). Nah, ini yang bikin masalah, untuk release 12, EBS masih banyak make applet javanya dan mintanya spesifik JRE versi 1.6, yang lain ogah. Emang sih di sediain installer JRE nya pas ngebuka menu di tampilan webnya, tapi itu plugin untuk MS Windows. Ya, kalo di buka di Linux kan ga bisa. dan ini menyebabkan Oracle EBS itu rada susah kalo dibuka di platform selain MS WIndows.
Nah, ternyata permasalahan lain juga muncul kalo kita ngebukanya via Google Chrome,sehingga kalo dibuka aplletnya, maka akan ada pesan error seperti ini

Masalahnya apa, saya juga nggak ngerti, pokoknya kalo make Chrome pasti seperti ini yang terjadi…Dan ternyata ini ada kaitannya dengan adanya berkas penting yang ga dikenali oleh Chromenya. Nah lo…. gimana balik lagi ke IE dong? Jangan dulu, ada yang bikin ekstensi di Chrome yang menghilangkan pesan eror ini dan kita tetep dapat bekerja di lingkungan Oracle EBS meskipun memakai Chrome, namanya Oracle EBS  R11 & 12 Enablement for Chrome. Caranya gimana? tinggal aktifin aja ekstensinya di  webstorenya Google Chrome,
 terus restart, dan tada… java applet nya Oracle EBS dapat anda 

Jalankan di Google Chrome…



woke… selamat mencoba :

next read :



Nyobain CDE di Debian Wheezy




Suka nyobain bermacam-macam Desktop Environment dan Window Manager di Distro Linux? sama kayak saya dong, apalagi nyobain DE/WM yang jarang dipake orang, nah itu yang paling saya demen… hehe… Pernah make EDE belum? atau nyobain DWM atau WindowMaker? Nah, kali ini saya mo nyobain DE paling keren di UNIX tahun 90 an yakni Common Desktop Environment alias CDE yang jadi opensource taun kemarin. Beneran, keren banget kok, tapi taun 90an, kalo sekarang ya mirip Windows 95 kali ya hehe

Kenapa nyobain DE yang tampilannya kalah jauh sama DE modern semacam GNOME atau KDE sih?? Saya ga punya alasan khusus sih, cuma penasaran aja bisa ga jalan di Debian saya…

Tapi emang, ngebangun DE dari source code itu ga gampang, segambreng yang mesti di install duluan sebagai library yang dibutuhkan untuk ngebangunnya. Dan karena CDE untuk Linux ini masih beta, jangan berharap agar jalan mulus kayak make lxde atau xfce misalnya.Lalu, gimana sih caranya, berikut ini adalah cara untuk ngebangun CDE dari source code khusus untuk Debian dan turunannya yang saya sadur dari laman resmi CDE di sourceforge :


1. Install dulu ubo rampenya alias paket-paket yang dibutuhkan, dan jumlahnya lumayan banyak yakni sbb;
  • git (buat donlot, klo ga ya tinggal donlot zipnya)
  • build-essentials
  • libxp-dev
  • libxt-dev
  • libxmu-dev
  • libxft-dev
  • libxinerama-dev
  • libxpm-dev
  • libmotif or libmotif3 or libmotif4 (Openmotif, in non-free or restricted)
  • libmotif-dev (Openmotif, in non-free or restricted)
  • libxaw7-dev (used by dtinfo)
  • libx11-dev
  • libXSs-dev
  • libtirpc-dev
  • x11-xserver-utils (for xset)
  • libjpeg-dev or libjpeg62-dev
  • libfreetype6-dev
  • tcl-dev
  • ksh (required for database to any script, and probably dtksh building)
  • m4 (required for nsgmls building)
  • ncompress (old style unix ‘compress’ needed when building help files)
  • xfonts-100dpi (for nicer looking fonts)
  • xfonts-100dpi-transcode or xfonts-100dpi-transcoded
  • rpcbind (or portmap) harus jalan dalam mode insecure (-i)
  • bison
  • xbitmaps

       2) Tambahin locales alias dukungan bahasanya yakni Jerman, Spanyol, Perancis, dan Italia
         Kalo di  Debian jalanin aja dpkg-reconfigure locales dan pilih dari daftar berikut ini :

    • de_DE ISO-8859-1
    • es_ES ISO-8859-1
    • fr_FR ISO-8859-1
    • it_IT ISO-8859-1
    3) Ubah rpcbind agar jalan di mode insecure
    Di Debian
    Edit /etc/init.d/rpcbind
    ubah “OPTIONS=”-w” dan gantiin sama “OPTIONS=”-w -i”
    Restart service rpcbind nya pake service rpcbind restart

     4) Kompilasi
     4.1) donlot source codenya.

    klo pake git tinggal ketik 

    git clone git://git.code.sf.net/p/cdesktopenv/code cdesktopenv-code
    4.2)Bikin symlink X11 headers


    cd cdesktopenv-code/cde



    mkdir -p imports/x11/include


    cd imports/x11/include


    ln -s /usr/include/X11 .


    4.3) siap untuk kompilasi


    cd cdesktopenv-code/cde



    make World

    Proses kompilasi cukup memakan waktu, dan kalo ga ada masalah akan ada 10 berkas pustaka di  cdesktopenv-code/cde/exports/lib 

    4.4) Test running some applications

    (ganti /path/to/ dengan lokasi pasti kode sumber CDE nya)

    export LD_LIBRARY_PATH=/path/to/cdesktopenv/cde/exports/lib



    cd cdesktopenv-code/cde/programs/dtcalc


    ./dtcalc

    5.) Installing

    Installnya make tools yang disediakan oleh CDE bernama installCDE, caranya pindah ke folder cdesktopenvcode/cde/admin/IntegTools/dbTools terus install

    # Install CDE



    cd cdesktopenv-code/cde/admin/IntegTools/dbTools


    sudo ./installCDE -s /path/to/cdesktopenv-code/cde/






    #terus jalanin skrip di folder post_install sbb



    cd cdesktopenv-code/cde/admin/IntegTools/post_install/linux


    sudo ./configRun -e

    Tambahan: Mungkin akan menghasilkan eror intetd, tapi ga masalah kok, abaikan saja.

    #ubah agar folder /var/dt dapat dipake semua user



    sudo chmod -R a+rwx /var/dt






    # bikin folder untuk kalender



    sudo mkdir -p /usr/spool/calendar


    6) Cobain CDE


    Sebenarnya ada beberapa cara untuk ngejalanin CDE, tapi paling gampang dan mudah untuk pindah-pindah desktop itu ya memanfaatkan login managernya Linux ya, kalo di Debian Wheezy menggunakan gdm. Caranya dengan membuat dua buah berkas yakni cde.desktop dan startxsession.sh yang isinya masing-masing sbb


    isi berkas /usr/share/xsessions/cde.desktop

    [Desktop Entry]



    Encoding=UTF-8


    Name=CDE


    Comment=Use this session to boot into the Common Desktop Environment


    Exec=/usr/dt/bin/startxsession.sh


    Icon=


    Type=Application


    Isi berkas/usr/dt/bin/startxsession.sh 
    #!/bin/sh

    export PATH=$PATH:/usr/dt/bin
    export LANG=C
    /usr/dt/bin/Xsession


    kasih permission agar berkas /usr/dt/bin/startxsession.sh dapat dijalankan pake perintah :


    chmod a+x /usr/dt/bin/startxsession.sh


    7. coba logout, dan lewat gdm, login pilih CDE, kalo sukses ya minimal kayak gini tampilannya



    Tambahan :
    belum semua fitur CDE sukses dibangun, ada yang belum jalan atau crash. untuk melihat Distro GNU/Linux/BSD yang udah sukses dibangun, liat dulu disini 
    next read :

    Whatsapp-an Pake Pidgin di Debian Wheezy


    Disclaimer :
    Layanan yowsup-cli sudah ditutup, karena diprotes whatsapp, jadi artikel ini tidak dapat dijalankan lagi.
    Kalo di postingan yang yowsup-cli ini kita memanfaatkan antarmuka berbasis Command Line Interface (CLI) untuk whatsapp an, maka boleh juga kita memanfaatkan Pidgin untuk mempermudah whatsapp an dan biar ga ribet ngetik-ngetik di terminal. Caranya, install plugin whatsapp nya di pidgin.Langkah-langkahnya sebagai berikut ini :

    http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js

    1. Install Pidginnya dulu

     

    apt-get install pidgin
    2. download dari github pake git

    git clone http://github.com/davidgfnet/whatsapp-purple.git


    3. install kebutuhan untuk ngebangun berkas .deb 

    apt-get install build-essential automake autoconf libtool pkg-config libcurl4-openssl-dev intltool libxml2-dev libgtk2.0-dev libnotify-dev libglib2.0-dev libevent-dev checkinstall

    4. pindah ke folder whatsapp-purple, dan bangun plugin whatsapp-purplenya, dan install pake checkinstall

    cd whatsapp-purple

    make -f Makefile64 && checkinstall

    nanti ada pertanyaan kek gini,

    Debian package creation selected ***

    *****************************************

    This package will be built according to these values:

    0 – Maintainer: [ root@debian ]

    1 – Summary: [ Package created with checkinstall 1.6.2 ]

    2 – Name: [ whatsapp ]

    3 – Version: [ purple ]

    4 – Release: [ 1 ]

    5 – License: [ GPL ]

    6 – Group: [ checkinstall ]

    7 – Architecture: [ amd64 ]

    8 – Source location: [ whatsapp-purple ]

    9 – Alternate source location: [ ]

    10 – Requires: [ ]

    11 – Provides: [ whatsapp ]

    12 – Conflicts: [ ]

    13 – Replaces: [ ]

    Enter a number to change any of them or press ENTER to continue:


    ganti no 3, dengan angka 1, dan enter, nanti akan langsung di install

    5. kalo udah gitu, tinggal melakukan registrasi menggunakan yowsup-cli.

    6. jika udah, tinggal buka pidgin, dan bikin akun baru dengan protokolnya whatsapp, username no hape yang ente daftarin, passnya isi dengan password yang dikirim dari whatsapp seperti ini mXW1s3DHXx7ZIhRX/TSpGIPPx+g=


    7. oke siap digunakan… dan ini contohnya kalo whatsapp an make Pidgin

     


    Next Read :

    Wheezy : Backup Paket yang Terinstall


    Kadang-kadang kita suka bongkar pasang paket software ya… hari ini lagi mood mainan trigger, kita install trigger… bosen tinggal uninstall… d segala macem lainnya.. atau pas cuma mau nyoba install paket tertentu aja..
    Nah, jadi masalah kalo kita install di Debian itu kita mesti make manajer paket yakni dpkg dan turunannya (apt-get install, aptitude, atau dselect) itu kan dapet via online atau pake dvd repo. Nah, kalo pas instalasi sih standarnya semua paket itu diunduh ke folder /var/log/cache/apt/archives. kalo mau backup tinggal kita kopi isi folder tadi dan kita pindahkan ketempat lain.
    Tapi, hal ini bermasalah kalo kita udah sering membersihkannya pake perintah apt-cache autoclean yang emang membuang semua isi folder tadi. Backup manual ini juga ga dapat mengarsipkan paket-paket yang di install ketika pertama kali fress-install dari CD/DVD installer. Maka, akan banyak dependencies unmet yang terjadi, dan juga pastinya ga semua paket yang ada di sistem ente dapat di backup.
    Solusinya adalah memanfaatkan fitur dpkg –get-selections dari dpkg yang mendaftar semua paket yang di install dan pernah di-install (statusnya deinstall) di Debian Wheezy anda dan menggunakan bantuan dpkg-repack untuk membentuk kembali paket-paket yang ada di sistem, serta grep dan cut untuk memudahkan proses dari daftar hasil dari dpkg –get-selections agar dapat dibaca oleh dpkg-repack. Hal ini karena, secara umum dpkg-repack itu cuma membentuk kembali hanya satu paket tertentu.Kalo mau satu sistem Wheezy anda yang harus di backup, maka kita harus memanfaatkan salah satu keajaiban dari UNIX-Like OS (sh script tepatnya) yakni teknik pipe.
    Nah, dengan teknik pipe, kita bisa memanfaatkan grep dan cut untuk menghasilkan daftar dari dpkg yang akan dibaca oleh dpkg-repack. Caranya, gampang kok, pertama install dulu dpkg-repack dan fakeroot
    apt-get install dpkg-repack fakeroot
    bikin direktori untuk menampung berkas .deb hasil repack, dan pindah kedalam folder tadi
     mkdir ~/dpkg-repack; cd ~/dpkg-repack
    terus jalanin skrip singkat berikut ini 
     fakeroot -u dpkg-repack `dpkg --get-selections | grep -w install | cut -f1`
    tunggu sampai selesai. Dan kalo udah selesai liat aja di folder dpkg-repack dan liat hasilnya…
    Kalo mau install, dapat ente pake perintah dpkg -i .*deb yang akan melakukan instalasi seluruh hasil dpkg-repack tadi, cuma emang kurang aman, mending kita buat repo lokal aja pake perintah dpkg scanpackages, terus tambahin ke sources.list dan install pake apt-get install atau aptitude agar dependensinya ikut di cek. Karena, kalo make dpkg -i itukan ga ngecek dependensi. takutnya ada yang lewat dan ga bisa dijalanin.
    Oke, selamat mencoba :
    NB : terinspirasi dari pertanyaan Aris Malakian di grub FB Debian
             skripnya punya abhiroopb di forum ubuntu, saya tambahin opsi -w
             gambar dari linuxrede

    Next Read :

    Edit Service yang Jalan pas Booting di Debian Wheezy





    Ini laptop kok berat amir sih, padahal makenya juga cuma gnome-fallback... masalahnya apa
    sih?? cek punya cek ternyata service aplikasi saya lumayan banyak dan beberapa termasuk
    kelas berat.

    Ada 130 an daemon yang otomatis hidup setelah masuk ke desktop, jadi ya wajar juga sih RAM saya abis terus-terusan. Yang paling berat itu keknya openerp-server, apache, sama postgres

    Lha, taunya gimana klo itu aplikasi paling banyak makan sumber daya RAM , pake aja top,
    atau kalo mau keren ya pake conky plus skripnya yang yahud.

    Terus, cek juga isi /etc/init.d untuk liat service apa aja yang jala ketika komputer
    (PC/laptop) idup. jangan lupa liatin juga lewat menu System Tools>>Preferences>>Startup
    Applications kalo make gnome-fallback untuk ngecek aplikasi apa saja yang otomatis jalan
    dan matiin yang ga terlalu penting, kalo kasus saya sih bluetooth manager sama desktop
    sharingnya.

    Nah, kalo dari menu System Tools>>Preferences>>Startup Applications itu untuk
    aplikasi yang emang kedaftar di DE nya dan yang kita buat via menu tadi, tetapi sebagian
    aplikasi bikin sendiri file di /etc/init.d/ tanpa mendaftarkannya ke aplikasi tadi. Ini
    yang bikin bingung, mau gimana matiinnya.

    Ternyata setelah nanya gugling, ada juga tools untuk memudahkan tugas tadi,yakni
    menggunakan rcconf, sysv-rc-conf, dan dengan membuang secara manual dari proses booting pake
    update-rc.d -f remove (nama service).

    Tapi, yang paling gampang itu ya rcconf, karena tampilannya sederhana, dan ga terlalu
    njelimet untuk orang-orang yang cuma make Wheezy di desktop kayak saya. hehehe...
    Installnya juga gampang, tinggal ketik apt-get install rcconf, tunggu sampe selesai, dan

    jalanin rcconf dengan user root. tapi hati-hati ya kalo menonaktifkan service pas boot,
    pilih service yang bener-bener ente tau ga berpengaruh kepada sistem, klo kasus saya sih
    openerp-server apache sama posgresql, karena emang saya pake setiap saat.pas butuh aja
    nanti saya idupin servicenya gitu....

    next read :
    http://theos.in/desktop-linux/removing-unwanted-startup-debian-files-or-services/
    support by www.faihana-store.com


    oke.. begitu catatan saya hari ini terima kasih...





    1 Cent Tips : Menikmati Alunan Al Quran via el-forkanee


    Al Fatihah
    Menikmati alunan ayat suci Al Quran memang beda ya suasananya dibanding bunyi bunyian lain. Nah, karena itu kepengen juga menikmatinya sekalian membacanya saat menggunakan Wheezy. Kalo yang ada di repo resmi ya pilihannya zekr, cuma itu, zekr make java yang emang kok saya masih kurang sreg dengan solusi openjdk yang disediakan oleh developer Debian, ditambah bug nya zekr yang kadang-kadang ga mau muter resitalnya.
    Lalu ketemu Ayat, yang merupakan proyek mushaf resmi dari kerajaan Saudi lewat King Saud University. Kalo liat tampilan di webnya sih, keren banget dan lengkap dengan terjemah, tafsir dan alunan dari hufazh terkenal. Cuma masalahnya ga masuk repo Debian, dan menggunakan Adobe AIR. Ga keren banget ini, hehe alasannya Adobe AIR sudah ga support lagi linux, dan saya make Debian Wheezy 64 bit yang emang rada bikin keki kalo masalah non-free software, belum lagi ternyata adobe air cuma ada versi 32 bit yang masih ada untuk linux, lha ini masalah lagi karena ternyata install multiarch di Debian Wheezy itu ga gampang. kalo liat dari pesennya si pat-get sih Debian mo migrasi ke multiarch, jadi ada paket-paket yang uda mulai dihilangkan… ya sudahlah….
    Patah arang dengan Ayat yang make AIR, akhirnya milih nyoba pilihan ketiga elforkane. Awalnya kesulitan nyarinya karena saya nulisnya elfurkane di gugel, ya ga nemu. Singkat kata, setelah ketemu di salah satu postingan di grub fb Ayo Belajar Linux ( tergerak untuk install program pembelajara Al Quran ini pun terinspirasi dari postingan yang sama di sono) maka mulai deh kita coba install elforkane. Gampang kok, tinggal setting repo nambahin reponya elforkane yang di software.opensuse.com (semacam ppa) terus tambahin keynya, terus update repo. sudah itu install pake apt-get install elforkane. mayan banyak juga ternyata hampir 66 MB an, karena ternyata dependensinya lumayan juga ada mysql, vlc, dll.

    Selesai, tinggal jalanin elforkanenya, dan nyobain murottalnya, ternyata elforkane ini semacam fork -an dari Ayat, karena ngambil streaming murottalnya juga dari ksu.edu.sa, pas baca readmenya via bantuan gugel translate, emang bener juga, elforkane dapat memakai semua plugin dari Ayat, tinggal ekstrak .ayt (format plugin Ayat dan di setting elforkane nya agar nyari ke hasil ekstrakkan tadi). tambah gampang, pertama kali yang saya lakukan adalah nyetting agar elforkane ga streaming online, tapi make murottal yang udah saya donlot dari situsnya ksu.edu.sa

    sip.. jadi deh….

    next read :

    Sprei dan Bedcover Karakter Lucu… Mau???
    untuk info dan pemesanan hubungi

    SMS atau WhatsApp 083872303254

    Reseller Welcome