Kuwait calls for Israel to be dismissed from international parliament


The head of the Kuwaiti Parliament Marzouq Ali Al-Ghenim has renewed his call to dismiss Israel from the international union of parliaments as a response to its continued aggression towards Palestinians, Alkhaleejonline.com reported on Sunday.
Al-Ghanim’s remarks were delivered during the 133rd conference of the Inter-Parliamentary Union (IPU) held in Geneva last week.
“The least thing to do in the face of the Israeli violations and the bloodshed in Palestine is to dismiss those outcast people [in reference to the Israelis] whose crimes are chargeable on all levels,” Al-Ghanim said.

Is this the Third Intifada?

Rising tensions in the Occupied Territories have led to dozens of deaths and hundreds of clashes.
Are we witnessing the Third Intifada?
He also said that Israeli crimes are “contradictory” to the principles of the IPU, Geneva Conventions, all religions and every human covenant.
“With no doubt, I am repeating that we are not against Judaism as a religion and a value… but we oppose Zionism, which we have experienced as a synonym for racism,” he stated.
Calling for peace, he said: “We are not calling for genocide, but calling for peace based on justice, honour, UN conventions and international law… I am calling for the IPU members to support our measures aiming to put pressure on the Israeli occupation to help Palestinians establish their own state with occupied Jerusalem as its capital.”

What’s Wrong with Wikipedia?


What’s Wrong with Wikipedia?

There’s nothing more convenient than Wikipedia if you’re looking for some quick information, and when the stakes are low (you need a piece of information to settle a bet with your roommate, or you want to get a basic sense of what something means before starting more in-depth research), you may get what you need from Wikipedia. In fact, some instructors may advise their students to read entries for scientific concepts on Wikipedia as a way to begin understanding those concepts.
Nevertheless, when you’re doing academic research, you should be extremely cautious about using Wikipedia. As its own disclaimer states, information on Wikipedia is contributed by anyone who wants to post material, and the expertise of the posters is not taken into consideration. Users may be reading information that is outdated or that has been posted by someone who is not an expert in the field or by someone who wishes to provide misinformation. (Case in point: Four years ago, an Expos student who was writing a paper about the limitations of Wikipedia posted a fictional entry for himself, stating that he was the mayor of a small town in China. Four years later, if you type in his name, or if you do a subject search on Wikipedia for mayors of towns in China, you will still find this fictional entry.) Some information on Wikipedia may well be accurate, but because experts do not review the site’s entries, there is a considerable risk in relying on this source for your essays.
The fact that Wikipedia is not a reliable source for academic research doesn’t mean that it’s wrong to use basic reference materials when you’re trying to familiarize yourself with a topic. In fact, the library is stocked with introductory materials, and the Harvard librarians can point you to specialized encyclopedias in different fields. These sources can be particularly useful when you need background information or context for a topic you’re writing about.

Sudahkah Shalat Merasuk Dalam Jiwa Kita?


Oleh Ust. Syarif Baraja
Tidak ada yang berbeda pada Subuh hari itu, terdengar Iqamat berkumandang, kaum muslimin di masjid Nabawi berbaris lurus dan rapat untuk shalat. Selesai memeriksa barisan, Imam menghadap kiblat dan mengangkat tangannya. Terdengar suara takbir, para makmum pun bertakbir. Suasana sunyi sejenak, kemudian terdengar bacaan surat al fatehah. Makmum menyimak al fatehah dengan khusyu’, kemudian mengucapkan Amin setelah imam membaca ayat terakhir al fatehah. Setelah diam sejenak, imam memulai membaca surat Yusuf.
Ya, surat yusuf. Ini bukan shalat subuh di tahun 2011, peristiwa ini terjadi tahun 23 H,  tahun 644 MasehiImamnya adalah Umar bin Khattab, makmumnya adalah para sahabat. .Umar biasa membaca surat An Nahl, Hud dan Yusuf pada shalat subuh. Inilah hari terakhir Umar bin Khattab shalat subuh di masjid Nabawi.
Umar terus membaca, hingga sampai ke ayat 84:
وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ 
Dan Yakub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
Umar berhenti membaca ayat karena tak kuasa menahan tangisnya, jamaah pun ikut menangis.
Umar bertakbir lalu ruku’, jamaah pun mengikuti. Tiba-tiba seseorang meringsek ke arah imam, lalu menusuk Umar di perutnya 3 kali. Umar bertakbir tiga kali. Orang itu berlari ke belakang, dan menyabetkan belatinya ke setiap orang yang dilewatinya. 13 orang terkena sabetan belati. 7 orang di antaranya wafat. Seorang sahabat melemparkan jubahnya ke kepala si pembawa belati, jubah itu menjeratnya. Para sahabat membekuknya, dia tidak bisa lari lagi. Dia menusukkan belatinya ke arah dirinya, kemudian menghembuskan napasnya. Dia adalah Abu Lu’lu’ah Al Majusi, seorang persia yang menjadi budak tawanan perang penaklukan imperiuam persia. Di Iran, sebuah bangunan megah berdiri di makam yang diklaim sebagai makam Abu Lu’lu’ah Al Majusi. Banyak orang berziarah ke sana.
Sebelum roboh, Umar sempat menggaet tangan Abdurrahman bin Auf untuk menjadi imam. Umar pun terkapar, darah mengalir dari perutnya. Setelah shalat, para sahabat menggotong Umar ke rumahnya, darah mengalir membasahi baju para sahabat.
Umar terbaring pingsan. Rupanya si majusi meracuni belatinya. Sahabat tidak tahu apakah Umar masih hidup atau sudah mati. Umar tetap diam, sambil darahnya mengalir. Umar tetap diam tak bergeming. Racun sudah bereaksi di tubuhnya.Mereka berupaya membangunkan, mungkin dengan memanggil-manggil namanya, ataupun menggoyang-goyang badannya, tapi Umar tetap diam tak bergerak.
Seseorang berkata, bangunkan dia dengan shalat, kalian tidak bisa membangunkannya kecuali dengan mengingatkan shalat. Ini karena semua sahabat tahu bahwa Umar sangat memperhatikan shalat. Umar tidak main-main dengan shalat.
Lalu para sahabat berkata wahai amirul mukminin, shalat, shalat,
Mendengar kata shalat, Umar terbangun, tubuhnya gemetar, katanya: ya, shalat, orang yang tidak shalat, tidak ada bagian Islam dari dirinya. Keislaman dalam jiwa Umar masih ada, bukan sekedar masih ada, tapi masih dalam kadar yang tinggi.Umar segera berwudhu dan shalat subuh, sambil darah mengalir dari lukanya.
hidup Umar adalah shalat. Ini karena Umar memahami bahwa kadar keislaman seseorang bergantung dari shalatnya.mengalahkan racun yang mengalir dalam darahnya. Yang paling berharga dalamRupanya shalat sudah begitu merasuk ke dalam jiwanya, merasuk ke setiap sel dalam tubuhnya,
Suatu kali, Umar menuliskan pesannya kepada umat Islam, dan menyebarkannya ke seluruh wilayah  agar kaum muslimin mendengarnya:
 إن أهم أموركم عندي الصلاة فمن حفظها حفظ دينه ومن ضيعها فهو لما سواها أضيع ولاحظ في الاسلام لمن ترك الصلاة
Sesungguhnya perkara agama yang paling penting adalah shalat. Siapa yang menyia-nyiakan shalat, maka dia akan menyia-nyiakan perkara lainnya. Orang yang meninggalkan shalat, tidak memiliki bagian dari Islam.
Meski dalam kondisi sakit dan terluka, Umar masih menjaga iman dan islamnya. Dia tahu bahwa orang yang kehilangan shalat, dia akan kehilangan islam dan iman. Orang yang kehilangan Islam dan Iman berarti telah kehilangan segalanya. Melebihi sekedar kehilangan harta dunia, melebihi kehilangan nyawa.
Shalat adalah barometer islam dan iman. Jika ingin melihat keimanan seseorang, lihatlah shalatnya, lihatlah sikapnya terhadap shalat, lihatlah bagaimana dia shalat. Tapi jangan hanya melihat ke luar, lihatlah ke diri anda sendiri. Perhatikan shalat anda, perhatikan bagaimana anda shalat, perhatikan sikap anda terhadap shalat, anda akan tahu kualitas iman anda dari shalat.
Sebuah kesimpulan yang sangat dalam. Luar biasa
Umar menyimpulkan ini semua dari Nabi Muhammad SAW, yang mementingkan shalat lebih dari segalanya, yang begitu sering memberitahukan pentingnya shalat pada sahabat, mengajarkan pada sahabat tentang pentingnya shalat. Mengajarkan dengan lisannya, yaitu dengan banyaknya hadits-hadits tentang shalat, baik yang menjelaskan keutamaannya, menjelaskan ancaman bagi yang meninggalkannya. Juga mengajarkan dengan perbuatannya, Nabi mengajarkan tatacara shalat dengan lengkap. Hari ini, kita bisa mengetahui seluruh tatacara shalat Nabi.
shalat menjadi penamat akhir kata Nabi Muhammad SAW, menjadi penutup hidupnya. Nabi Saw begitu mencintai umatnya, begitu sayang pada umatnya, tetap memikirkan umat sampai akhir hayat. Saat menjelang ajalnya, Nabi mengulang-ulang kalimat:Pada akhir hayat, pada detik-detik terakhir hidupnya, saat menghembuskan napas terakhir,
Shalat, shalat, dan budak-budakmu, shalat, shalat, dan budak-budakmu, shalat, shalat, dan budak-budakmu.
Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu Salamah: Nabi mengulang-ulang kalimat itu sampai suaranya tidak jelas terdengar.
Sampai suaranya tidak lagi jelas terdengar, karena ruhnya sudah mencapai leher, sampai ruhnya dicabut oleh malaikat, Nabi tidak berhenti mengingatkan umatnya tentang shalat. Hanya pesan penting yang disampaikan pada kesempatan terakhir. Seolah Nabi mengirimkan isyarat, bahwa shalat adalah sesuatu yang paling penting dalam hidup seorang muslim, baru kemudian berbuat baik pada budak.
Umar benar-benar meresapi pesan Nabi mengenai shalat dengan seluruh tubuhnya. Hingga tersimpan di memori yang paling dalam, pada otak yang mengatur kerja organ dalam, tubuh, seperti detak jantung, usus, liver dan pankreas, yang tetap bekerja meski sedang pingsan dan tidur.
Bagaimana dengan kita?

Sumber : FB

Khittah Islam Nusantara


oleh : Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin

Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia juga ikut memperbincangkannya. Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.
Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang yang digelar beberapa waktu lalu, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU.
Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para Mua’sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat.
Tiga Pilar
Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah).
Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika ”al-jumûd ‘alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi”, pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU.
Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jamaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.
Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan Nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan ’urf atau ‘ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua.
Penanda Islam Nusantara
Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para Nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.
Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.
Ketiga, tatawwu’iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, Nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.
Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.
Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.
Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional.
Ijtihad
Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.
Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan Nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai Nahdliyin di sini misalnya adalah maãlahah (kebaikan).
Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: ”idhã wujida nass fathamma masslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar’ al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah”. Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas.
Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi.
Oleh: KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI Pusat/ Rais Aam PBNU, dalam artikelnya yang berjudul Khittah Islam Nusantara, yang dimuat di Kompas pada 29 Agustus 2015.