Kemoterapi Siklus ke 5 yang Spesial


Fathi berkreasi dengan efek Webcam

Kemoterapi siklus ke 5 ini rada spesial, karena memang jadwalnya di Januari 2014, yang merupakan awal dimulainya penerapan JKN dan perubahan penjamin dari PT Askes menjadi BPJS Kesehatan. Tau kan, kalo namanya perubahan sistem itu awalnya pasti tidak mengenakkan bagi penggunanya, maupun stakeholder yang dilayani menggunakan sistem yang baru ini. Tidak terkecuali juga dengan sistem baru pola penjamninan JKN yang namanya INA CBS itu.. pasti awal-awal penggunaan sistem baru itu cukup merepotkan. Nah, khusus untuk kemoterapi, pasien mesti membayar dulu semua biaya perawatan, baru nanti di klaim ke BPJS. 
Lebih luas lagi, tahun 2014 itu memang lumayan spesial, per tanggal 2 Januari Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara mulai di uji coba di dua KPPN yakni KPPN Jakarta II dan KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah, serta Kantor Pusat DJPBN, DJPU, dan DJPK. Saya tidak dapat banyak membantu karena memang sudah di mutasi ke KPPN Sragen agar dapat fokus dalam terapinya Fathi.
Yang lain adalah, pada terapi kali ini, Fathi sepertinya mulai terlihat bosan, selama di rumah sakit sejak Rabu, 15 Januari 2014 juga mulai susah makan. Kemungkinan susah makannya karena memang konsumsi prednisone nya hanya ketika jadwal kemoterapi selama 5 hari. Tidak seperti 4 siklus sebelumnya yang nafsu makannya tinggi akibat efek samping prednisone, kali ini sepertinya anaknya ogah ogahan kalo liat makanan. Memang sih, kemoterapi itu lumayan menjemukan, mesti bolak balik rumah sakit, harus menjaga kondisi.Nah, kalau anak anak jni yg rada susah, karena namanya anak anak kan maunya main saja.Begitu juga dengan Fathi, kalo di rumah ya sudah, becanda sama adiknya itu kayak ga sakit aja. Padahal kalo kecapean juga nakutin kalo sampe panas itu lho.

Kalo program kemonya sih tetap seperti biasanya. Biasnya sih sekali kemoterapi, dijadwalakan 5  hari, hari pertama biasanya di periksa dokter Riza di Cendana, terus diresepin ini itu termasuk vincristine  yang di suntik via infus sama cek darah rutin plus SGOT dan SGPT. Kalo udah tinggal nunggu kamar. Ini yang kadang-kadang bikin keki kalo ga pesen kamar sebelumnya, apalagi kalo yang VIP, lebih susah dibandingkan nyari kamar hotel.

Hari Kedua kemoterapi itu yang paling bikin nangis, biasanya itu saat MTX disuntikkan ke sumsum tulang belakangnya. Prosedurnya lumayan ribet, jadi biasanya dokter Riza sendiri yang melakukannya, dibantu satu perawat dan satu dokter yang jadi asistennya dokter Riza untuk memegang Fathi agar tidak berontak.

Sebelum di suntik intratetal (ke sumsum tulang belakan), Fathi di tidurkan dulu dengan suntikan obat lewat infusnya (Intravena), baru satu sampai 2 menit kemudian fathi mulai tidur. Kalo sudah begitu, barulah Fathi dimiringkan tidurnya, kaki dan kepalanya agak ditekuk, terus punggunggnya dibersihkan dengan kasa antiseptik, kemudian diberikan betadin. Kalo sudah, MTX disiapkan dulu, terus disiapkan juga beberapa suntikan. Pertama kali yang di tusukkan ke sumsum itu suntikan kosong, setelah masuk, cairan sumsum nya dikeluarkan sedikit, ditampung di sepet (suntikan yang lain) setelah itu barulah suntikan berisi MTX di lepas jarumnya dan di tempatkan di jarum suntik yang ada di punggung fathi. Barulah MTX disuntikkan. Nah, pas mulai di bersihka sampai selesai disuntik MTX Fathi mesti di pegang agar posisi nya tidak berubah.

Hari, ketiga dan ke empat barulah siklofosfamid dan doksorubicin. Bentuknya sudah oplosan obat gitu, kalo siklo dioplos dengan Mesna. Kalo Dokso itu bentuk awalnya bubuk, kalau ada kemoterapi, barulah di oplos jadi satu tabung infus ukuran 500 ml.

Setelah Doxorubicin, biasanya istirahat sehari, baru keesokan harinya kalau tidak ada efek samping seperti muntah, mencret, atau panas diperbolehkan pulang. Jadi, pas satu minggu untuk kemoterapinya, dan istirahat 2 minggu di rumah sebelum proses kemo selanjutnya…melelahkan memang.

Fathi Panas dan INA CBGs


Apa hubungannya hayo, antara Fathi yang demam berat sama INA CBG? Hayo pada bingung kan?? hehe… Sebenarnya ceritanya dimulai dengan disahkannya dua Undang-Undang yakni UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Jaminan Kesehatan Nasional, dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Nah, singkat kata, mulai 1 Januari 2014 itu, saat dimulainya program JKN yang penyelenggaranya  itu BPJS. PT Askes, merupakan salah satu BUMN yang menjadi BPJS Kesehatan. Nah, pola penjaminan oleh BPJS Kesehatan (eks PT Askes) itulah yang disebut INA CBG alias Indonesian Case Base Groups.
Nah, karena minggu kemarin itu Fathi demam tinggi (diatas 38 C) akhirnya oleh dr. Riza disarankan mondok lagi di RSDM. Nah, karena pas masuk itu tanggal 7 Januari 2014, tentunya PT Askes sudah berubah menjadi BPJS Kesehatan, alhamdulillah RSDM termasuk RS yang sudah siap melayani JKN (BPJS Kesehatan), pola penjaminan oleh PT Askes selama ini yang memisahkan paket layanan rumah sakit, serta Obat juga berubah menggunakan INA CBG. Awalnya juga sempat khawatir sih dengan sistem baru yang baru jalan seminggu.
Lalu, INA CBG itu apaan sih? secara gampang nya sih, BPJS Kesehatan itu menjamin pesertanya yang sakit itu per paket berdasarkan diagnosis dan terapi yang diterima sampai pesertanya keluar rumah sakit. Sedikit Berbeda dengan pola penjaminan PT Askes yang membagi penjaminan antara pelayanan kesehatan dengan obat.Dengan INA CBG, diagnosis awal dan terapi yang akan dilakukan itu menjadi dasar besarnya jaminan oleh BPJS, akan tetapi besarnya jaminan ini tetap, alias ada batas tarifnya, sebagai contoh ketika Fathi panas kemarin itu, diagnosis awalnya adalah NHL dan terapinya yang diterima sepertinya digolongkan sebgai demam berat, maka tarif yang sekaligus batas atas jaminannya adalah sekitar 5 jt-an rupiah. Angka 5 jt rupiah inilah yang menjadi batas atas yang dijamin BPJS.
Sedangkan tarif RSDM pada dasarnya ditentukan melalui peraturan gubernur Jateng yang tetap mengenakan biaya per layanan. Nah, kalo plafonnya habis, maka kelebihannya itulah yang harus ditanggung oleh Pasien. Sebagai contoh; Fathi kemarin itu 3 hari di RS, total biayanya sekitar 2 jt an rupiah, sedangkan yang dijamin BPJS sebesar 5 jtan rupiah. Saya ga nombok, karena memang masih dibawah plafon, cuma kalo seminggu di RS, pengalaman sebelumnya biaya RSnya sekitar 8 jt an, dengan asumsi yang ditanggung itu 5 jt-an, maka saya mesti membayar rp 3 jutaan.
Kasarnya begitu, semakin lama di rumah sakit, semakin besar yang harus dibayar pasien, karena jaminan dari BPJS itu tetap jumlahnya. Artinya, pasien itu ga boleh lama-lama sakit, ini yang dinamakan oleh pemikir INA CBG sebagai Clinical Pathway. Dokter, Pasien, dan Rumah Sakit mesti mikir berapa lama pasien ini dirawat di RS sampe sembuh. Semisal, kalo demam, cukup 3 hari saja, ga perlu lama-lama. dsb.
Tapi, ada satu yang rada pusing dengan Clinical Pathway ini, banyak penyakit yang ga mudah untuk menentukan sembuhnya, apalagi yang harus dirawat di ICU berminggu-minggu, kalo yang masih sanggup jalan, dapat di rujuk balik  (disuruh pulang, terus masuk lagi dengan diagnosis sama), lha yang ga bisa kan biaya yang tidak ditanggung akan sangat besar.
Tapi, mudah-mudahan tarif INA CBGs nya tetap memperhatikan perkembangan dan kesesuaiannya dengan kondisi yang terjadi di lapangan, sehingga dokter ga pusing, pasien juga ga pusing, rumah sakit lebih gampang mengalokasikan tarif.
untuk rujukan bacaan silahkan datangi saja website berikut ini :
oke semoga bermanfaat.
next read:
gambar saya ambil tanpa permisi dari sini