Khittah Islam Nusantara


oleh : Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin

Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia juga ikut memperbincangkannya. Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.
Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang yang digelar beberapa waktu lalu, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU.
Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para Mua’sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat.
Tiga Pilar
Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah).
Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika ”al-jumûd ‘alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi”, pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU.
Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jamaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.
Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan Nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan ’urf atau ‘ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua.
Penanda Islam Nusantara
Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para Nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.
Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.
Ketiga, tatawwu’iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, Nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.
Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.
Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.
Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional.
Ijtihad
Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.
Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan Nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai Nahdliyin di sini misalnya adalah maãlahah (kebaikan).
Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: ”idhã wujida nass fathamma masslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar’ al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah”. Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas.
Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi.
Oleh: KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI Pusat/ Rais Aam PBNU, dalam artikelnya yang berjudul Khittah Islam Nusantara, yang dimuat di Kompas pada 29 Agustus 2015.

Forced to Accept Islam


READ THIS TRULY AMAZING STORY ABOUT A BRIGHT AND VERY INTELLIGENT, SINCERE AMERICAN WOMEN WHO WAS FORCED TO ACCEPT #ISLAM . FORCED? Are Muslims REALLY forcing people in America to accept ISLAM ??? Read the story below to find out what’s really going on. Please don’t forget to share!

I was forced to accept Islam
By Danielle LoDuca

I never aspired to be a Muslim.
I didn’t even want to be a Christian.
The whole concept of ‘organized religion’ was distasteful. I sought to use my mind, not resort to some ancient book for assistance in living my life.
If you had offered me millions of dollars to join one faith or another, I would have declined. One of my preferred authors was Bertrand Russell, who maintained that religion is little more than superstition and generally harmful to people, despite any positive effects that it might have. He believed that religion and the religious outlook serve to inhibit knowledge and promote fear and dependency, in addition to being accountable for much of our world’s wars, persecution, and misery.

I remember laughing out loud while reading “Hey, Is That You God?” By Dr. Pasqual Schievella, in which he derided the concept of God through satirical dialogue. It all seemed so logical. Thinkers like us were surely above religious devotees, I thought smugly.
But, for me, it wasn’t enough to just think I was better off without religion. I wanted to systematically prove religions were no more than a hoax. I purposefully set out to do just that.

Yet, here I am. Muslim.
Sure, I made the declaration of faith, but the choice I had was really no choice at all. Essentially, I was compelled – forced to accept Islam.
Interestingly, in my talks with followers of religions, especially those other than Islam, I have often noticed that they clearly desire to believe. As if, no matter how many contradictions or errors are pointed out in their scriptures, they brush them aside and maintain their unquestioning faith.

Rarely do I ever find that the scriptures themselves convinced them, but rather they decided to have faith, and then the studies began after that decision, if at all. They knew what they believed, either by having been raised upon it, or like a friend of mine told me, “Islam seems foreign, so I never looked into it. Christianity is more familiar and convenient, because most of the people around me are Christian. So when I was seeking God, I chose # Christianity .”
Personally, I never considered myself to be seeking God, but if I had, the last place I think I would have looked would have been in an old book, or a building, or a person.

Some people, who decide to believe in something at the outset, may then develop selective vision when it comes to learning the faith they’ve chosen. I had also decided to believe something; I chose to believe that religions were simply fabricated delusions of grandeur.
In actuality this notion was not built on hard facts, it was an assumption. I had no evidence. When I undertook reading the religious books, I was not biased towards them, but my intentions were to look for flaws. This approach helped me manage to maintain a fair amount of objectivity.

My paperback translation of the # Quran had been acquired for free. I didn’t even stop to chat with the MSA students standing at the table stacked with books. I curtly asked, “Is it free?” When they replied in the affirmative, I grabbed one and continued on my way. I had no interest in them, only the free book to assist me in accomplishing my goal of debasing religions once and for all.

But, as I read that Quran; as its cover became worn and its pages tattered, I became more and more subdued. It was distinct from the other religious books I had also collected. I could understand it easily. It was clear.

A friend of mine once began ranting about how # God in Islam is angry and vengeful. I came to its defense without even realizing it, opening it up and easily flipping to one of the many pages that said, “Surely, Allah is Forgiving, Merciful.” It was if the Quran was speaking to me directly – responding to my life. It was an “old book” but somehow, it was entirely relevant. Something about its cadence and imagery and the way it communicated to me intimately; It was exquisite beauty I hadn’t really felt before, reminiscent only of the moments I had spent out west, staring out over a seemingly endless desert landscape. I found it exhilarating; comparable to the way it felt running barefoot in the sand under the stars with powerful waves crashing at my side.

The Quran was appealing to my intellect. Offering me signs and then telling me to think, to ponder and consider. It rejected the notion of blind faith, but encouraged reason and intelligence. It directed humanity towards goodness, recognition of the Creator, plus moderation, kindness, and humility.

After some time, and life-changing experiences my interest intensified. I began reading other books about Islam. I found that the Quran contained prophecies, as did many of the hadiths. I found that the prophet Muhammad was corrected several times in the Quran. This seemed strange if he had in fact, been its author.I had begun walking down a new path. Led by the amazing Quran, paired with the # beautiful paradigm of devotion; the Prophet Muhammad. This man showed no signs of being a liar.Praying through the nights, asking forgiveness of his oppressors, encouraging kindness. Refusing wealth and power and persevering with the pure message of devotion to God alone, he endured unfathomable hardship.

It was all so uncomplicated, easy to understand. We’ve been created; all this intricacy and diversity could not pop out of nothing. So follow the One who created us – Simple.
I remember the warm artificial lighting in my apartment and the weight of the air on the night I read this verse:

{Have those who disbelieved not considered that the heavens and the earth were a joined entity, and We split them asunder and made from water every living thing? Then will they not believe?} (Quran 21:30)

My mind was split asunder when I read this. It was the # BigBang – suddenly not just a theory… And every living thing from water… wasn’t that what scientists had just discovered? I was astonished. It was the most exciting and yet frightening time of my life.I read and studied and double-checked book after book until one night I sat in my library at Pratt Institute, staring wide-eyed at the piles of open books. My mouth must have been dropped open slightly. I couldn’t believe what was happening. I realized I had in front of me, the truth. The truth I had been so sure did not exist.

Now what?
There were only two choices and one was no choice at all. I could not deny what I had discovered, ignoring it and going on with my life as before, though I did consider it briefly. That left only one option.I knew I had to accept it, because the only alternative was denying truth.

Editor’s note: Danielle LoDuca is a third generation #American , raised in a homogeneous, white, suburban community. Although raised as a #Catholic , she considered herself agnostic and was disdainful of # religion in general until she chose Islam in 2002. She is an artist with a BFA from Pratt Institute, as well as a wife and mother of five. Her views are her own.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152891116501104&id=207242941103&refid=28&_ft_=qid.6174221377071893943%3Amf_story_key.2982577602488366093%3AeligibleForSeeFirstBumping.&tn=%2As

Resensi : A World Without Islam


Apa jadinya dunia tanpa Islam? Lebih damai kah? Atau kah tetap saja dunia mengalami gejolak peperangan dan ketidakstabilan geopolitik seperti sekarang?Kira-kira begitu titik tolak Graham E. Fuller menulis buku berjudul  World Without Islam. Dalam pembukaan bukunya, Graham Fuller menulis :
” This book will argue the case from opposite directions. If there had never been an Islam, if a Prophet Muhammad had never emerged from the desert of Arabia, if there had been no saga of the spread of Islam across vast parts of Middle East, Asia, and Africa, wouldn’t the relationship between the West and the Middle East today be entirely different? No, I argue, it might actually be quite similar to what we see today”
Kasarnya, Graham Fuller, berpendapat, jika pun Islam tidk pernah ada, dunia khususnya hubungan Barat (Amerika) dan Timur Tengah akan tetap seperti yang kita lihat saat ini. Dengan ideologi lain(entah itu arabisme atau marhanisme), yang menjadi sparring partner kebudayaan barat dalam memperebutkan hegemoni sebagai kebudayaan mutakhir di dunia ini.
Bukunya pak Fuller ini memang lumayan memberikan pencerahan buat para pembaca di amrik sono, yang taunya Islam itu identik dengan Teroris, Jihad, tukang bunuh dll, karena pak fuller memberikan gambaran bahwasanya, apa yang terjadi saat ini(kaitannya dengan hubungan Barat (amrik) dan Muslim) itu cuma ekses negatif dari standar ganda yang dilakukan oleh pemerintahan Amerika di tanah muslim.
Pak Fuller bercerita dalam buku ini dalam 3 bagian besar, mengikuti cara berceritanya Alvin Toffler dalam The Third Wave, yakni :
1. Heresy and Power, dalam bagian ini Fuller bercerita tentang persamaan dan perbedaan antara Islam, Kristen, dan Yahudi. Pergulatan diantara ketiganya, sampai dengan peperangan yang melibatkan Islam dan Kristen dalam Perang Salib. Di singgung juga persamaan hubungan antara Islam vs Katholik, dengan Katholik vs Protestan.
2. Meeting at The Civilizational Borders of Islam, bercerita tentang interaksi antara Islam dan kebudayaan selain Islam non Barat, khususnya Islam dan Rusia, Islam dan China, serta Islam dan India.
3. The Place of Islam in the Modern World, bercerita tentang Islam di zaman terkini, seputar kolonialisme barat,  nasionalisme, jihad, Terorisme, kebijakan Amerika di dunia Islam, dan di tutup dengan pendapat pak Fuller gimana mengurangi rasa permusuhan antara barat (amerika serikat) dan islam.
Nah, dalam pendapatnya ini, pak Fuller menekankan pentingnya amerika menghilangkan standar ganda yang selama ini dianut dalam membina hubungan dengan dunia muslim, penarikan tentara amerika dari tanah air muslim, penghentian kolonialisme Israel di tanah Palestina, dan biarkan muslim menyelesaikan masalah nya sendiri di tanahnya sendiri.
Diluar ketidakakuratan kecil dibeberapa bagian, serta mengutip pendapat pemikir Islam yang dikenal liberal, buku ini memang cukup memberikan cara pandang yang berbeda dalam melihat hubungan antara kebudayaan Barat (Judeo-Christianity ) yang diwakili oleh Amerika Serikat denga Islam.
Next Read :
gambar dari goodreads

Humor Allah dalam Al Quran


Ada cendikiawan muslim yang bertanya via twitter begini “Kenapa di kitab suci humor gak dapat tempat ya. Agama jadinya terlalu serius. Pdhl humor itu sehat. Apa agama gak pengen orang jadi sehat?” Saya bales, cara humor Allah SWT itu beda sama rasa humor kita manusia. Jadi, kadang kala humornya Allah itu ga dapat membangkitkan perasaan senang kita apalagi tawa kita. Kenapa, ya karena emang humornya Allah itu ga serendah humor humor buatan manusia. Mesti ada makna dibaliknya.
Apasih humor itu? kalo kata KBBI sih gini “sesuatu yg lucu: ia mempunyai rasa –; 2 keadaan (dl cerita dsb) yg menggelikan hati; kejenakaan; kelucuan”. So, rasa lucu dan terhibur dari humor ini kan sangat tergantung dengan persepsi yang menerima humor. Apatah lagi humor dari Sang Pencipta dalam Al Quran. Sangat tidak mungkin kita tertawa dan terhibur kalau kita tidak mengerti maksud dari Kalam Ilahi ini.
Lha memang ada humor Allah dalam Al Quran. Menurut saya pribadi ada, tapi ya itu tadi, humornya bukan bahasa humor manusia. Jadi dijamin ga membuat kita tertawa…
Salah satu contoh adalah Surat Al Insyirah yang bercerita tentang beban berat Nabi Muhammad SAW dan bagaimana Allah SWT menjanjikan kemudahan di dalam setiap kesulitan. Dalam Tafsir Al Azhar, Buya Hamka menggambarkan hal ini dengan indah :
5– Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. 
إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًۭا

6- Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (ayat 5). 


Ini adalah Sunnatullah! Nabi Muhammad merasa berat beban itu sampai seakan-akan hendak patah tulang punggung memikulnya. Namun di samping beratnya beban, atau beserta dengan beratnya beban, namanya diangkat Tuhan ke atas, sebutannya dimuliakan! Karena demikianlah rupanya Sunnatullah itu; kesulitan selalu beserta kemudahan Yang sulit saja tidak ada! Yang mudah saja pun tidak ada! Dalam susah berisi senang, dalam senang berisi susah; itulah perjuangan hidup. Dan ini dapat diyakinkan oleh orang-orang yang telah mengalami.

Penulis tafsir ini sendiri mendapat pengalaman besar sekali untuk meresapkan intisari ayat ini seketika ditahan dua tahun empat bulan dengan secara kezaliman dan sewenang-wenang. Itu adalah kesulitan!

Kalau saya bawa bermenung saja kesulitan dan perampasan kemerdekaanku itu, maulah rasanya diri ini gila. Tetapi akal terus berjalan; maka ilham Allah pun datang. Cepat-cepat saya baca al-Quran, sehingga pada 5 hari penahanan yang pertama saja, 3 kali al-Quran khatam dibaca. Lalu saya atur jam-jam buat membaca dan jam-jam buat mengarang tafsir al-Quran yang saya baca itu. Demikianlah hari berjalan terus dengan tidak mengetahui dan tidak banyak lagi memikirkan bilakah akan keluar.
Akhirnya setelah terjadi kekacauan politik gara-gara Komunis pada 30 September 1965 itu dan di bulanMei 1966 saya dibebaskan, saya telah selesai membaca al-Quran sampai khatam lebih dari 150 kali dalam masa dua tahun, dan saya telah selesai pula menulis Tafsir al-Quran 28 Juzu’. Karena 2 Juzu’ 18 dan 19 telah saya tafsirkan sebelum ditangkap dalam masa dua tahun. Dan kemudian itu pada tahun 1968, atau 1387 hijriyah saya dan almarhumah isteri dapat naik haji. Kami bawa pula anak kami yang kelima, Irfan. Lebih dari separuh belanja perjalanan kami bertiga beranak ialah dari hasil honorarium (royalty) Tafsir Al-Azhar Juz’ 1.

Begitulah humor Allah SWT kepada Buya HAMKA, diberikan kepada beliau kesusahan, tetapi ternyata bukan hanya kesusahan, tetapi kemudahan-kemudahan yang menyertai kesulitan tersebut membuat nilai dari kesulitan tadi tereduksi. Kalo, difikir lagi, mengapa Allah memberikan kesulitan sekaligus kemudahan-kemudahan? Mengapa tidak diberi kemudahan saja langsung?? Memang, kalau tidak mengalami sendiri hal tersebut, kita tidak akan dapat merasakan bahwa sesungguhnya Allah sedang mencandai kita. Agar agama itu tidak terlalu serius seperti kata mas @sahal_as.
Saya juga menyadari ini setelah anak saya di diagnosis mengidap Limfoma Nod Hodgins dan menjalani perawatan di rumah sakit selama hampir 2 bulan. Dibalik kesusahan ini, ternyata kemudahan-kemudahan yang Allah berikan itu lebih banyak. Dapat saya sebutkan contohnya: dukungan baik materiil maupun immateriil dari sahabat-sahabat baik yang saya kenal maupun tidak, waktu saya untuk anak saya yang lebih banyak, kesabaran saya, kunjungan dari kakak saya, sampai pengetahuan saya mengenai tumor/kanker yang bertambah. Begitulah Allah SWT memberikan rasa humornya kepada saya. Kepada Anda? Tentu saja lain kepala, lain cerita.
Terakhir, ada tulisan di FB om TJ yang membuat sadar bahwasanya QS Al Insyirah ini bukan hanya untuk menceritakan perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, tetapi juga memberikan pesan humor kepada kita.
Tuhan berfirman bahwa BERSAMA tiap kesulitan ada kemudahan. BERSAMA itu BUKAN sesudahnya. dalam versi Qur-an, kata //ma’a// (artinya: bersama atau tepat beserta) jelas tidak mengandung makna //ba’da// (artinya: setelah atau sesudahnya).

dilihat dari sudut pandang itu, ternyata segalanya baik-baik saja. mudah menyimpulkan demikian, mudah pula menyatakannya begitu.

tetapi, semudah itukah mempercayai dan menjalaninya dalam kenyataan sehari-hari? mengapa kita cenderung sibuk mencari kebaikan SETELAH terjadinya (yang kita anggap sebagai) keburukan? macam mana hendak berjumpa dengan keberkahan yang sejatinya SELALU BERSAMA dengan keburukan?

untuk mengetahui hanya butuh meragu.
untuk mengerti hanya butuh memikirkan.
untuk memahami hanya butuh merenungi.

tetapi untuk senantiasa damai mengimani keadilan Tuhan, itu sungguh membutuhkan rahmat-Nya.

nakal sekali Tuhan itu ya? dan kita membanting raga, memilin jiwa, hanya untuk berusaha meyakini bahwa Ia Maha Besar. padahal, kemahabesaranny

a itu sudah dan masih akan selalu terbukti lewat kejahilan kita yang jadi bulan-bulanan tipudaya-Nya.

ah, sungguh, dalam hal beriman, lebih bodoh itu lebih baik!

semoga engkau merelakan dirimu diperdaya-Nya, saudaraku; sebab, semakin engkau tertipu oleh-Nya, engkau akan makin sejahtera dan damai lahir-batin, di dunia dan alam setelahnya.

Disclaimer : tulisan saya sangat mungkin salah.

Next Read :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=411666782293279&id=100003498816564&refid=17
http://qtafsir.blogspot.com/2013/01/tafsir-al-azhar-qs-al-inshirah-5-8.html
http://tafsirzilal.files.wordpress.com/2012/06/insyirah-eng.pdf
https://twitter.com/shouso/status/403325772535844864

JIL : Apa Iya Allah SWT itu Tuhan Segala Agama


Maaf ya,kali ini mau ngebahas SARA, khususnya bagian Agamanya.. hehe… mau nanya nih, buat para penganut Agama selain Islam, apa iya anda mengakui Nama Allah Sebagai Tuhan agama anda?? Mau membuktikan saja sih klaim dari situsnya JIL  sesuai yang ada di  gambar diatas… Terima kasih…
Update : udah ilang itu Klaim nya JIL tapi klo di undurin ke taun 2013 masih ada kok cek disini http://web.archive.org/web/20130117101325/http://islamlib.com/

Next Read :