Debian : Install Driver Proprietary AMD


Debian + Non-free firmware emang bukan jodoh.Tau kenapa, emang karena Debian itu punya kebijakan yang rada kaku kalo menyangkut non-free software yang dijabarkan dalam Debian Free Software Guideline (DFSG). Nah, kalo software ga lulus kriteria di DFSG,jangan harap itu software dapat nongkrong di repo resmi Debian. Kalaupun kepepet,semisal itu terkait dengan fungsionalitas hardware (alias firmware) maka biasanya itu akan masuk di seksi non-free di repo, itupun biasanya ga otomatis keinstall pas proses instalasi. Mesti dilakukan penambahan repo sendiri, terus install sendiri. Biasanya yang seperti ini terkait sama hardware semisal driver VGA, dan driver WIFI adapter. Dan, installnya pun kadang-kadang rada ga sekali langsung sukses. Nah, kalo ini terkait sama vga amd radeon. hehehe.. Sebenarnya, Debian menyediakan wiki yang cukup lengkap untuk instalasinya. Berikut ini adalah proses instalasi driver fglrx dari reponya Debian sesuai dengan wiki nya :


AMD Catalyst 12.6
For support of Radeon HD 7000, Radeon HD 6000 and Radeon HD 5000 series GPUs. For older devices, see AMD Catalyst Legacy 13.1.
  1. Add “contrib” and “non-free” components to /etc/apt/sources.list, for example:

    # Debian 7 "Wheezy"


    deb http://http.debian.net/debian/ wheezy main contrib non-free

  2. Update the list of available packages. Install the appropriate linux-headers and fglrx-driver packages:

    # aptitude update


    # aptitude -r install linux-headers-$(uname -r|sed 's,[^-]*-[^-]*-,,') fglrx-driver

    This will also install the recommended fglrx-modules-dkms package. DKMS will build the fglrx module for your system.
  3. Restart your system to enable the radeon blacklist.

AMD Catalyst Legacy 13.1

For support of Radeon HD 4000, Radeon HD 3000 and Radeon HD 2000 series GPUs.

  1. Add Debian Backports sources to /etc/apt/sources.list, also including the “contrib” and “non-free” components. For example:

    # Backported packages for Debian 7 "Wheezy"


    deb http://http.debian.net/debian/ wheezy-backports main contrib non-free

  2. Update the list of available packages. Install the appropriate linux-headers and fglrx-legacy-driver packages:

    # aptitude update


    # aptitude install linux-headers-$(uname -r|sed 's,[^-]*-[^-]*-,,')


    # aptitude -r -t wheezy-backports install fglrx-legacy-driver

    This will also install the recommended fglrx-legacy-modules-dkms package. DKMS will build the fglrx module for your system.
  3. Restart your system to enable the radeon blacklist.
Saya, ga ngikutin prosedur diatas, yang saya lakukan adalah setting repo non-free, update repo, terus install fgrlx drivernya. saya lupa untuk melakukan konfigurasi dahulu, langsung aja main restart, hasilnya ya ga bisa masuk ke desktop, karena vga nya ga kedeteksi otomatis, padahal driver radeon yang opensource udah di blacklist.
Karena, harus Install ulang Debian, maka proses instalasi vga AMD nya saya ga ngikutin prosedur resmi diatas lagi, tapi langsung install dari berkas .run yang di keluarkan AMD, bukan yang sudah dibikin paket oleh Developer Debian, karena itu saya mengikuti panduan di cchtml yang sedikit saya ubah. Kira-kira begini proses instalasi saya :
 1. Persiapan 
 setting repo dulu termasuk non-free, terus update, kalo belum upgrade ke Debian 7.1 mending lakukan upgrade dulu. Setelah itu, install paket yang dibutuhkan untuk proses build paket : 
$ apt-get install build-essential cdbs fakeroot dh-make debhelper debconf libstdc++6 dkms libqtgui4 wget execstack libelfg0 module-assistant dh-modaliases
If you are using the x86_64 architecture (64 bit), be sure to install “ia32-libs” before proceeding!
$ apt-get install ia32-libs

Jika sebelumnya udah pernah install via repo Debian, sebaiknya lakukan uninstall dulu driver fglrxnya sebagai berikut ini  :

$ sudo apt-get remove --purge fglrx fglrx_* fglrx-amdcccle* fglrx-dev* xorg-driver-fglrx

Nah, proses diatas akan mengakibatkan proses lanjutan untuk meminta uninstall xserver yang dianggap sudah tidak diperlukan lagi oleh sistem dengan menjalankan perintaj apt-get autoremove. Jangan pernah dilakukan autoremove kalo ga xserver ente akan ke uninstall dan masuk ke mode text.

2. Download Driver AMD terbaru

setelah itu silahkan donlot dulu driver catalyst dari amd yang terbaru untuk linux disini 
http://support.amd.com/us/gpudownload/linux/Pages/radeon_linux.aspxkalopun sudah punya jangan lupa catat lokasinya di harddisk, semisal /home/shouso/Download/amd.run. Sesuaikan dengan kondisi di PC/Laptop Debian anda. ohya,jangan lupa drivernya di kasih permisi untuk bisa di eksekusi sebagai program ya,
3. Install Drivernya via Mode Text
Sebenarnya ga ada panduannya sih, insall driver vga amd harus pake mode text, cuma demi kenyamanan saja, saya mengikutin prosedur install driver NVIDIA yang mesti masuk ke text mode. Caranya, buka terminal, jadi superuser (root) dan matikan xservernya dengan menjalankan perintah 
service gdm3 stop.
setelah masuk ke mode text (tty) tinggal ketik di monitor 

sh /home/shouso/Download/amd.run

sesuaikan perintah diatas dengan lokasi driver anda yang udah di catat tadi. Jika, ga ada masalah maka akan ada panduannya kok, mau install atau bikin berkas .deb, karena saya gagal pas build .deb saya langsung install aja.
nah tunggu sampai selesai.
4. Jika sukses, jangan langsung reboot dulu, tapi lakukan dulu konfigurasinya dengan mengetikkan
$ sudo amdconfig --initial -f
setelah, itu edit xorg.conf nya sesuaikan dengan maksimal resolusi layar anda, dengan mengedit bagian screen nya seperti contoh berikut ini Section “Screen”
       Identifier       "amdconfig-Screen[0]-0"
Device "amdconfig-Device[0]-0"
Monitor "0-DFP6"
DefaultDepth 24

SubSection "Display"
Viewport 0 0
Depth 24
# Big Desktop: 1920+1280=3200, max(1080,1024)=1080
Virtual 3200 1080
EndSubSection

EndSection
edit aja yang udah ada, dan edit seksi displaynya.
5. Kalo sudah coba di restart,
 kalo berhasil maka akan masuk ke desktop dan cek apakah udah bisa make driver proprietarynya, kalo yang make Gnome Shell, paling gampang ya sudah bisa masuk ke Gnome Shell tanpa balik ke GNome Fallback
Yep, begitulah pengalaman saya, semoga bermanfaat ya… terima kasih. isi xorg.conf saya, nanti saya upload agar memudahkan manteman yang sama kayak saya.. terima kasih..

PS : isi xorg.conf saya dapat diliat di sini

Next Read :

Sprei dan Bedcover Karakter Lucu… Mau???
untuk info dan pemesanan hubungi

SMS atau WhatsApp 083872303254

Reseller Welcome

Opini : Belajar i-Governance ala Debian Project


Belajar i-Governance dari proses pemilihan Project Leader Debian ternyata asyik juga ya…betapa tidak, Debian Project adalah salah satu proyek open source tertua yang masih bertahan sampai sekarang hanya dengan dukungan komunitas pencintanya.
Organisasi Debian termasuk sangat kompleks, dan mengelola proyek yang ukurannya raksasa via internet tok… hebat…. mau tau, kayak apa susunannya?? saya dapat dari internet kayak gini :
Salah satu yang membuat Debian Project sangat  berbeda dengan proyek berbasis GNU/LINUX lain adalah adanya panduan organisasi yang harus dipatuhi oleh semua orang yang tergabung dalam Debian Project. Panduan itu, disebut Constitution menjadi arahan bagi semua pihak di dalam Project Debian. Peran Debian Project Leader tidak lebih penting dibandingkan dengan Volunteers maupun pengguna Debian secara umum. Hanya saja, Project Leader memegang wewenang sesuai yang tertulis dalam konstitusinya Debian.

Pemilu nya Debian juga enggak menggunakan metode pemilihan langsung, tetapi menggunakan metode Concorcet yang terdengar ganjil diteliinga kita… kayak apa sih itu Metode?? mending langsung aja ke link berikut ini :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Condorcet_method
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Cloneproof_Schwartz_Sequential_Dropping

 Selain DFSG dan Constitutionnya yang menarik untuk diulas, keberhasilan Debian Project mengelola dirinya (governance) juga patut untuk ditilik lebih jauh. Dari hanya sekumpulan orang (baca : developer) yang hobi Linux dan sepaham, menjadi salah satu proyek paling terorganisasi tentu saja memerlukan waktu untuk mencapainya.

Menurut Siobhán O’Mahony dan Fabrizio Ferraro, keberhasilan Debian Project bertahan dalam menghadapi dilema umum komunitas (dana, perbedaan pendapat, one man show problem ) adalah bertumpu pada kesuksesan Debian Project dalam implementasi governance (tata kelola) dalam organisasi yang semakin berkembang.Dalam prosesnya, governance dalam Debian Project mengalami 4 fase penting yakni :

  1. De facto Governance (1993 – 1996);
  2. Designing Governance (1997 – 1999);
  3. Implementing Governance (1999 – 2003); and
  4. Stabilizing Governance (2003 – 2006).

  Selama fase pertama, Debian belum mengatur bagaimana kontributor berkontribusi beserta hak dan kewajibannya, Fase kedua  mulai di susun draft hak dan kewajiban masing-masing pihak kedalam dokumen resmi yakni Debian Constitution, kemudian fase III dan IV merupakan fase implementasi dan memformalkan governance kedalam Debian Project.

Dapat dikatakan bahwa kesuksesan Debian Project bertahan dan menjadi salah satu komunitas GNU/Linux tertua terletak dalam memformalkan aturan aturan baku tadi kedalam satu dokumen Debian Constitution yang harus ditaati bersama. Turunan langsung dari Debian Constitution adalah Debian Social Contract serta Debian Free Software Guidelines yang menjadi panduan bagi semua pihak di dalam Debian.

Dalam Debian Social Contract dan DFSG jelas dituliskan bahwa Debian Project mendukung gerakan Free and Open Source Software. Hal ini juga yang menyebabkan Debian Project sangat ketat dalam menyeleksi paket software yang dapat masuk kedalam repositorinya. Hal ini menyebabkan Debian seolah olah tidak menerima software non FOSS dan menjadikannya lebih tertutup dalam persoalan hardware yang tidak menyertakan software berbasis FOSS.. dengan kata lain… agak ribet make debian….hehe…

oke… begitu dulu…. udah kehabisan ide…

Next Read :

mau bedcover dan Sprei Klub Bola Favorit anda???? Klik aja