Mengapa Bisa Salah Persepsi?



Oleh : Ust. Syarif Baraja


Kisah salah persepsi, ingin ke Solo tapi berjalan ke arah Semarang. Dia yakin jalan ke semarang itulah jalan ke Solo. Itulah salah persepsi. Meski kita yakin jalan yang kita tempuh adalah jalan ke Solo, tapi kita tetap sampai ke Semarang. Karena persepsi orang hanya berlaku pada orang itu sendiri. Tapi persepsi tidak mengubah kenyataan. Dia tetap sampai ke semarang, bukan ke Solo. Satu lagi salah persepsi yaitu persepsi obat, dia merasa yakin minum obat, tapi ternyata yang diminum adalah sabun cuci, atau pembersih keramik. Dia tetap sakit, meski yakin seyakin- yakinnya bahwa cairan yang diminumnya adalah obat, bukan sabun cuci. Jika salah persepsi seperti itu, bisa membuat orang sakit, maka yang lebih parah adalah salah persepsi dalam agama. Dia mengira berada di jalan lurus, padahal dia keliru. Dia mengira sedang berjalan menuju sorga, tapi ternyata dia keliru. Yang ditempuhnya adalah jalan menuju neraka. Dan dia pun benar-benar sampai ke neraka, karena menempuh jalan ke sana. Al Qur’an menggambarkan tragedi ini:


ﻗُﻞْ ﻫَﻞْ ﻧُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺄَﺧْﺴَﺮِﻳﻦَ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟًﺎ ‏(103 ‏) ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺿَﻞَّ
ﺳَﻌْﻴُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻳُﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ
ﺻُﻨْﻌًﺎ 104


Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia- sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
Tragis sekali, ketika dia merasa berbuat baik, ternyata perbuatannya keliru. Tragisnya, dia sadar di saat yang tidak tepat. Dia sadar saat segalanya sudah terlambat. Dia sadar saat hari kiamat. Sungguh tragedi yang luar biasa. Dia merasa benar di dunia, tapi dia sesat di akhirat. Di dunia dia sudah merasa percaya diri dengan jalannya, percaya diri akan jaminan keselamatan di hari kiamat. Tapi ternyata persepsinya keliru. Dan dia tidak bisa kembali lagi ke alam dunia. Akhirat tidak dikontrol oleh persepsi dan pikiran orang. Akhirat adalah sesuai dengan yang dikehendaki Allah, bukan sesuai dengan persepsi kita. Begitu juga dengan keselamatan di akhirat, bukan mengikuti persepsi kita, tapi mengikuti kehendak Allah. Dan kehendak Allah telah dijelaskan oleh para Rasul. Bukan menurut persepsi kita sendiri. Para Rasul menyampaikan kebenaran kepada umatnya dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Maka kita ikuti petunjuk Rasul itu, jangan kita tafsirkan petunjuk Rasul itu semau kita sendiri. Akibatnya fatal, bisa salah persepsi. Dan Allah menyebut mereka yang salah persepsi di akhirat dengan al akhsaruna a’malan. Yaitu orang yang paling merugi. Rugi karena mengira benar, padahal keliru. Dia sudah berharap masuk sorga, tapi dia masuk neraka. Dia kehilangan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarganya di sorga. Jika ia masuk neraka bersama keluarganya, tidak akan ada acara duduk-duduk santai di neraka. Tidak ada pembicaraan kenangan indah di dunia. Penghuni neraka sibuk dengan siksa.Maka sesat persepsi dalam hal agama perlu dihindari. Karena konsekuensinya begitu berbahaya. Langkah pertama menghindari salah persepsi terkait akhirat adalah dengan mengetahui sebabnya. Lalu kita hindari cara itu.Bukankah kita ingin selamat dan terhindar dari salah persepsi? Bukankah kita tidak ingin mengalami kerugian besar karena salah persepsi? Bukankah kita nanti di akhirat tidak bisa kembali lagi ke dunia? Bukankah para korban salah persepsi di akhirat tidak bisa kembali lagi ke alam dunia? Allah sayang kepada kita, tidak ingin kita terkena musibah salah persepsi di akhirat, maka Allah menjelaskan penyebab sesat persepsi. Mari kita simak penjelasan Allah dalam surat Az Zukhruf ayat 37. Allah berfirman:


ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺶُ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻧُﻘَﻴِّﺾْ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻧًﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﻟَﻪُ
 ﻗَﺮِﻳﻦٌ36

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Siapa yang membutakan dirinya, yang membuat seolah dirinya tidak nampak peringatan Allah, tidak melihat kepada peringatan Allah. Yaitu Al Qur’an. Orang yang tidak melihat sama dengan orang yang buta. Tapi di sini ada makna yang lebih detil.Di sini kata membuta adalah dalam kata kerja, yaitu dia membutakan dirinya. Dia membutakan dirinya dari AL Qur’an. Dia bisa melihat, tapi dia tidak mau melihat Al Qur’an. Dia tidak mau memperhatikan Al Qur’an. Dia tidak mau melakukan apa yang semestinya  dilakukan dengan Al Qur’an. Dia tidak memperlakukan Al Qur’an dengan benar. Akibatnya, dia disebut membutakan matanya dari Al Qur’an. Al Alusi dalam Tafsir Ruhul Ma’ani mengatakan:

 ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺶُ ﺃﻱ ﻳﺘﻌﺎﻡ ﻭﻳﻌﺮﺽ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ
ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦِ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ

Siapa yang membutakan matanya, yaitu berpura-pura buta, dengan berpaling dari peringatan Allah, yaitu Al Qur’an. Ibnu Katsir mengatakan:


ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : } ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺶُ { ﺃَﻱْ : ﻳَﺘَﻌَﺎﻣَﻰ ﻭَﻳَﺘَﻐَﺎﻓَﻞُ ﻭَﻳُﻌْﺮِﺽُ،
} ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ { ﻭَﺍﻟْﻌَﺸَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦِ : ﺿَﻌْﻒُ ﺑَﺼَﺮِﻫَﺎ.
ﻭَﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩُ ﻫَﺎﻫُﻨَﺎ : ﻋَﺸَﺎ ﺍﻟْﺒَﺼِﻴﺮَﺓِ ،

Barangsiapa yang berpura-pura buta, berpura-pura lalai, dan berpaling. Yang dimaksud adalah mata yang rabun. Dalam ayat ini maksudnya adalah mata hati yang rabun. Dia berpaling dari Al Qur’an. Dia tidak mentadabburi Al Qur’an, padahal Allah menjelaskan bahwa tadabbur adalah tujuan utama Al Qur’an diturunkan.


ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ ﻟِﻴَﺪَّﺑَّﺮُﻭﺍ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻟِﻴَﺘَﺬَﻛَّﺮَ ﺃُﻭﻟُﻮ
ﺍﻟْﺄَﻟْﺒَﺎﺏِ 29


Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. Allah menjelaskan mereka yang enggan mentadabburi Al Qur’an:

ﺃَﻓَﻠَﺎ ﻳَﺘَﺪَﺑَّﺮُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺃَﻡْ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻠُﻮﺏٍ ﺃَﻗْﻔَﺎﻟُﻬَﺎ 24

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? Dia enggan membaca AL Qur’an. Enggan mempelajari Al Qur’an. Enggan mendekat kepada        Al Qur’an. Apa yang dimaksud dengan enggan? Enggan artinya tidak mau. Tidak memiliki keinginan untuk mendekat kepada Al Qur’an. Akhirnya ia jauh dari Al Qur’an. Enggan mentadabburi Al Qur’an.Mengapa orang enggan kepada Al Qur’an? Mengapa orang enggan menyelami Al Qur’an? Apa yang membuat orang meninggalkan Al Qur’an? Banyak sebab, semoga bisa kita bahas di lain waktu.Apa pun sebabnya, yang jelas, meninggalkan Al Qur’an fatal akibatnya. Apa yang terjadi ketika orang meninggalkan Al Qur’an? Al Qur’an adalah cahaya yang menerangi kehidupan kita. Menjauh dari Al Qur’an berarti menjauh dari cahaya. Meninggalkan Al Qur’an,bagai meninggalkan tempat yang terang, dan pindah ke tempat gelap.Al Qur’an adalah barokah. Menjauhi Al Qur’an berarti menjauhi barokah dari Allah. Ketika jauh dari Al Qur’an, maka dia jauh dari petunjuk. Ketika jauh dari petunjuk, maka dia akan tersesat. Seperti orang yang berjalan tanpa petunjuk. Dia sesat.Ketika orang membutakan matanya dari Al Qur’an, ketika orang menjauhi Al Qur’an, maka yang mendekat adalah setan. Allah mengijinkan setan untuk mendekatinya. Menjauhi Al Qur’an  bagai membuka jalan bagi setan untuk mendekat.


ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺶُ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻧُﻘَﻴِّﺾْ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻧًﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﻟَﻪُ
ﻗَﺮِﻳﻦٌ 36 ﻭَﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻟَﻴَﺼُﺪُّﻭﻧَﻬُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻞِ ﻭَﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ
ﻣُﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ 37

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Ketika jauh dari Al Qur’an, orang akan dekat dengan setan. Orang akan ditemani oleh setan kemanapun ia pergi. Dia tidak lagi berada di bawah cahaya Allah. Sedangkan setan adalah musuh utama manusia, yang ingin membawa manusia menuju neraka.Al Alusi melanjutkan penjelasan ayat ini: Yaitu kami beri kesempatan bagi setan untuk menguasai dirinya, seperti kulit telur yang meliputi seluruh isi telur. Setan akan selalu bersamanya, selalu membisikkan bisikannya, dan membawanya ke jalan yang sesat. Ini adalah hukuman bagi mereka yang kafir, yaitu dengan mengunci hati dan kesengsaraan. Seperti kata orang: Allah akan menghukum seorang hamba karena melakukan maksiat, dengan perbuatan maksiat berikutnya. Apa yang dimaksud dengan membalas maksiat dengan kejelekan? Seperti Allah di sini membalas orang yang menjauhi Al Qur’an, dengan memberi jalan bagi setan untuk  mendekat. Dengan melepas penjagaan Allah darinya, maka dia sudah tidak lagi dijaga oleh Allah, hingga setan bisa mendekat. Lalu setan itu mengajaknya berbuat buruk. Itulah balasan Allah. Kadang Allah membalas maksiat dengan perbuatan maksiat lagi, hingga orang itu terjebak dalam lingkaran setan kemaksiatan. Kemudian Al Alusi melanjutkan tafsirnya: Makna ayat ini, yaitu mereka yang melalaikan dirinya sendiri, dan membutakan matanya dari menelaah dan mengamalkan Al Qur’an, siapa yang berpaling dari syareat Allah, dan jarang menelaah peringatan Allah kepada hambaNya, Kami akan memudahkan baginya setan yang akan selalu bersamanya, dan menyesatkannya, setan itu selalu bersamanya sepanjang waktu. Inilah adalah sebuah bentuk hukuman, yaitu dengan mengunci hati dan menggiring menuju kegagalan, ini seperti kata orang: Allah menghukum orang yang bermaksiat dengan menambah perbuatan maksiatnya, dan membalas perbuatan baik dengan menambah perbuatan baiknya. Hal yang semakna ini telah diriwayatkan secara marfu. Maka perbanyaklah perbuatan baik, agar Allah selanjutnya memudahkan kita untuk melakukan lebih banyak perbuatan baik. Cegahlah diri dari perbuatan buruk, agar Allah tidak menghukum kita dengan perbuatan buruk lainnya. Allah menentukan hukuman bagi yang berpaling dari AL Qur’an, yaitu dengan melepas penjagaanNya, hingga ada setan yang selalu bersama kita, menemani kita sepanjang hari. Apa yang dilakukan oleh setan itu kepada kita? Al Alusi melanjutkan: Setan yang dibiarkan oleh Allah untuk membersamai mereka yang berpaling dari peringatan Allah, akan selalu  mencegah orang itu dari kebenaran dan jalan lurus. Dan karena bisikan setan itu, orang-orang kafir merasa diri mereka benar.Ketika orang melepaskan diri dari peringatan Allah, maka Allah mengirim setan kepadanya, setan akan menyesatkan persepsinya, hingga ia merasa benar dan lurus jalannya. Tapi kenyataannya, dia benar-benar berada di jalan setan, dan di jalan lurus yang menuju neraka. Orang tadi salah persepsi, jalan yang keliru dikiranya lurus. Dia salah persepsi karena bisikan dan rayuan setan. Dan setan berhasil merayunya, karena dia menjauh dari Al Qur’an. Pelan-pelan setan melancarkan rayuan dan bisikannya, hingga dia melenceng ke jalan setan, tapi merasa dirinya dalam kebenaran. Inilah bahaya persepsi diri. Ketika persepsi tidak sesuai dengan kenyataan, maka orang akan keliru bertindak. Dia bertindak atas alasan persepsi dirinya sendiri, bukan berdasarkan kebenaran. Di sinilah letak bahayanya. Orang yang dikuasai setan tadi berjalan ke arah yang keliru, tapi dia mengira dirinya sedang berjalan di atas kebenaran. Dia sesat, tapi dia merasa dirinya benar. Dan dia mengikuti persepsinya. Tapi kebenaran tidak mengikuti persepsi, apalagi kebenaran tentang Allah, dan ketentuan Allah yang telah digariskan. Di sinilah bahayanya, dia tidak sadar bahwa dirinya keliru. Dia tetap mengikuti persepsinya meski berbeda dengan kenyataan. Allah sudah menjelaskan kebenaran yang harus diikuti dalam AL Qur’an, baik berupa perintah, atau keyakinan, atau sudut pandang tertentu dalam menilai sesuatu. Atau dengan kata lain, bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu berita dan perintah. Kita harus percaya kepada berita Al Qur’an, dan melaksanakan perintah-perintahnya. Biasanya tentang persepsi adalah terkait tentang berita. Tentang sudut pandang. Tentang paradigma. Dan persepsinya yang keliru ini terkait dengan ajaran agama, terkait dengan jalan hidup, yang berkaitan langsung dengan nasib kita di akhirat. Siapa yang salah? Apakah Allah salah ketika menghukumnya? Atau dia yang salah ketika meninggalkan Al Qur’an?Allah adalah Maha Adil, Allah tidak pernah menzhalimi manusia. Allah adalah Maha Penyayang. Rahmat Allah begitu luas. Allah tidak memiliki kepentingan dari mencelakakan manusia. Tapi Allah yang menetapkan hukum dan aturan. Ketika ada manusia yang menyimpang, maka ia layak dapat hukuman. Apa yang terjadi kemudian? Apakah persepsinya sesuai dengan kebenaran? Atau kebenaran akan mengikuti persepsinya? Tidak. Persepsi manusia tidak berlaku bagi orang lain. Persepsi manusia tidak akan bisa mengubah kenyataan. Ketika dia sesat, maka dia tetap sesat meski menurut dirinya dia tidak sesat. Di sini dia sesat, tapi merasa benar. Ketika orang mengingatkan kesesatannya, dia tetap bersikukuh dengan persepsinya. Orang banyak membawakan bukti kesalahannya, tapi dia sudah terlanjur dikuasai setan. Dia tidak bisa lagi keluar dari jebakan persepsi, sampai dia kembali kepada Al Qur’an lagi. Sampai dia mendekat kepada Al Qur’an. Sampai dia memperlakukan Al Qur’an dengan benar. Bagi mereka yang disesatkan  oleh setan, akan ada dua kemungkinan. Yang pertama, dia mendapat kesempatan untuk kembali dekat dengan Al Qur’an. Dia mendapatkan jalan untuk bisa memperlakukan Al Qur’an dengan benar, yaitu dengan membaca, mentadabburi dan mengamalkan. Maka setan pun menjauh. Kesempatan ini bisa datang kapan saja. Ketika datang, dia tidak mau ketinggalan, dan langsung menyambut. Dia sadar bahwa persepsinya keliru, dan dia merasa harus kembali kepada Allah. Ketika orang mendekat kembali kepada Al Qur’an, setan pun pergi menjauh, karena dia sudah berada dalam penjagaan Allah. Ketika Allah menjaga, maka setan tidak bisa mendekat, tidak bisa menyesatkan persepsinya. Kedua, dia tetap terperangkap oleh persepsinya yang salah, sampai waktunya habis. Sampai ajal datang menjemput. Sampai tiba saatnya berangkat ke negeri akhirat. Di situlah dia mendapati bahwa persepsinya keliru. Ketika datang saatnya ajal, yang menjemputnya bukan malaikat rahmat, tapi malaikat adzab. Dia menyadari bahwa persepsinya selama ini keliru. Tapi dia terlambat. Dia sadar ketika waktu sudah habis. Allah menceritakan kondisi mereka di akhirat nanti:

ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَﻧَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎﻟَﻴْﺖَ ﺑَﻴْﻨِﻲ ﻭَﺑَﻴْﻨَﻚَ ﺑُﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﺸْﺮِﻗَﻴْﻦِ
ﻓَﺒِﺌْﺲَ ﺍﻟْﻘَﺮِﻳﻦُ 38

Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)”.

Kelak di hari kiamat, dia akan bertemu dengan setan yang menyesatkannya di dunia, yang melancarkan rayuan dan bisikan dan menyesatkan persepsinya. Dia menyesal telah mengikuti bisikan setan, hingga terjebak dalam persepsinya yang keliru. Tapi penyesalan di hari akhirat tidak lagi berguna. Meski dia mengutuk setan, meski dia menyesal, tapi penyesalan di hari kiamat tidaklah berguna. Perhatikan lagi kalimat penyesalan si korban persepsi. Setelah bangkit di hari kiamat dan bertemu setan yang menyesatkannya, persepsinya berubah. Tapi sudah terlambat. Dia menyalahkan setan dengan kalimat penyesalan yang pedih:Andai saja dulu aku jauh darimu, seperti jauhnya timur dan barat. Seandainya aku tidak mengenalmu, dan tidak pernah bertemu denganmu. Andai saya dulu jauh darimu, seperti jauhnya timur dan barat. Sebuah penyesalan yang getir. Mengungkapkan penyesalan yang amat mendalam di dalam hati.Tapi mari kita bertanya lagi, mengapa semua ini terjadi? Mengapa setan bisa menyesatkan persepsi kita? Ini semua akibat menjauhi Al Qur’an. Kata Allah dalam ayat berikutnya:

ﻭَﻟَﻦْ ﻳَﻨْﻔَﻌَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺇِﺫْ ﻇَﻠَﻤْﺘُﻢْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ ﻣُﺸْﺘَﺮِﻛُﻮﻥَ
39

Sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri), ketika kamu bersama dalam azab. Meskipun kalian sama-sama mendapatkan adzab, tapi kebersamaan kalian tidak akan bisa menghibur. Berbeda dengan ketika mendapatkan musibah di dunia, ketika menemukan teman yang bernasib sama, bisa saling menghibur, akhirnya musibah jadi terasa lebih ringan. Kesedihan bisa berkurang. Tapi di akhirat berbeda. Tetap terasa sedih dan kecewa. Tetap merasa sakit karena disiksa. Kebersamaan menjadi tidak berguna. Apalagi bersama dengan setan di neraka. Bersama setan di neraka, karena dia dahulu bersama setan di dunia. Dia bersama setan karena menjauhi Al Qur’an. As Sa’di menjelaskan lebih detil:

Kebersamaan kalian dalam adzab tidak akan bermanfaat, kalian akan bersama dengan kawan kalian di dunia. Karena kalian dahulu bersama- sama melakukan kezhaliman, maka kalian bersama-sama mendapatkan hukuman dan siksaNya.Menghibur di kala bersama mendapat musibah juga tidak akan bermanfaat bagi kalian, karena ketika terjadi musibah di dunia, dan banyakorang mendapatkan hukuman (musibah) itu, maka musibah akan terasa ringan, dan masing-masing akan menghibur satu sama lain. Sedangkan musibah akhirat, maka hukuman akhirat mencakup semua hukuman. Tidak ada istirahat dan kesenangan sama sekali. Meskipun hanya sekedar kesenangan bisa menghibur satu sama lain yang sama-sama terkena musibah. Kita memohon keselamatan dari Allah, semoga Allah membuat kita berbahagia dengan rahmatNya. Siksa neraka semakin hari makin bertambah. Tidak berkurang, tapi malah makin bertambah. Kata Allah dalam QS An Naba:

ﻓَﺬُﻭﻗُﻮﺍ ﻓَﻠَﻦْ ﻧَﺰِﻳﺪَﻛُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﺬَﺍﺑًﺎ 30


Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.

Inilah bencana akhirat yang terjadi ketika kita salah persepsi. Sebuah bencana yang besar. Dan tragisnya, salah persepsi itu terjadi tanpa kita sadari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s