Memperkuat Instrumen Wakaf
Dr Irfan Syauqi Beik Ketua Prodi Ekonomi
Syariah FEM IPB Salah satu instrumen
ekonomi syariah yang perlu mendapat
perhatian dan harus dikem – bang kan ke
depan adalah wa kaf. Wakaf merupakan
instrumen ke – uang an sosial syariah
yang selama ini belum tergarap dengan
baik, mes – kipun beberapa institusi,
terutama institusi pendidikan, telah
memberi – kan contoh bagaimana mereka
bisa mengembangkan diri dengan wakaf.
Di Indonesia, Pondok Modern Gontor dan
UII Yogyakarta adalah contoh lem baga
pendidikan yang mampu ber tahan dan
memberikan kontribusi signifikan bagi
umat dan bangsa me – lalui wakaf.
Demikian pula Uni ver – sitas Al Azhar
Mesir yang bertahan lebih dari 10 abad
dengan mengan- dalkan pengelolaan
wakaf sebagai ujung tombak pendanaan
dan pem- biayaannya. Sebagai instrumen
yang memiliki potensi ekonomi yang
besar, sudah saatnya bangsa Indonesia
meman- faatkan wakaf ini semaksimal
mung – kin. Apalagi hal ini diperkuat oleh
keberadaan UU No 41/2004 tentang
Wakaf, yang memberikan landasan
yuridis dan hukum yang kuat bagi
pengembangan wakaf ke depan, baik
wakaf berupa aset tetap seperti ge – dung
dan tanah, maupun wakaf be – rupa uang.
Badan Wakaf Indonesia (BWI), sebagai
institusi yang mendapat mandat untuk
mengembangkan wakaf, perlu diperkuat
dan didorong agar bisa berperan lebih
signifikan da lam mengambil inisiatif dan
lang – kah-langkah strategis dalam upaya
optimalisasi instrumen wakaf. Kita pun
sebagai bangsa dapat pula belajar dari
negara-negara lain seperti Singapura,
yang terbukti mam pu memodernisasi
pengelolaan wa kaf sehingga aset-aset
wakaf yang memiliki nilai ekonomis dan
sosial yang tinggi. Agar instrumen ini
dapat dioptimalkan bagi sebesar-besarnya
kesejahteraan masyarakat, maka pa – ling
tidak, ada tiga langkah strategis yang
harus dilakukan oleh BWI dan para
pemangku kepentingan (sta – keholder)
perwakafan nasional. Pertama, perlunya
penguatan edukasi masyarakat tentang
wakaf. Hal ini sangat penting dilakukan
ka – re na persepsi masyarakat tentang
wa kaf masih sangat tradisional. Ma – sih
banyak warga masyarakat yang hanya
berpikir bahwa harta yang bisa
diwakafkan hanyalah aset tetap be – rupa
tanah dan gedung dengan per – un tukan
yang sangat terbatas. Mi – salnya, untuk
pemakaman dan mas – jid. Belum
terpikirkan untuk mem- produktifkan
wakaf secara ekonomis. Untuk itu,
sosialiasi dan edukasi ini menjadi faktor
penting yang dapat membangkitkan
kesadaran masyara – kat akan pentingnya
wakaf. Selain itu, harus ada keberanian
yang bersifat ijtihadiuntuk melaku – kan
terobosan dan inovasi dalam pe –
manfaatan wakaf tanpa harus me – lang
gar aspek syariah. Misalnya ba – gai mana
mengembangkan wakaf uang sebagai
sumber pembiayaan yang bersifat
tijaarisehingga mem- berikan keuntungan
ekonomis yang bisa dipakai untuk
kepentingan sosial umat. Hal ini
sebagaimana yang telah dicontohkan oleh
kekhilafahan Turki Us mani yang mampu
berkuasa sela – ma enam abad dengan
ditopang oleh instrumen wakaf uang.
Uang wakaf pada masa itu, sebagaimana
studi Cizakca (2004), didayagunakan
secara produktif melalui pembiayaan
mura – bahah dan mudharabah yang
disalur – kan pada masyarakat, sehingga
bi sa berkembang dan memberikan dam –
pak multiplier terhadap pereko no – mian.
Di satu sisi, banyak masyarakat yang
terbantu bsinisnya karena men- dapat
pembiayaan, sedangkan di sisi lain,
keuntungan yang didapat dari pembiayaan
tersebut digunakan untuk kepentingan
sosial masyarakat. Kedua, perlunya
penataan kelem- bagaan melalui
penguatan institusi dan SDM nadzir yang
ada. Ini sangat krusial karena kualitas
lembaga dan SDM ini sangat menentukan
wajah perwakafan nasional. Untuk itu,
seba- gaimana yang saat ini tengah diusa-
hakan pada sektor zakat, sektor wakaf ini
memerlukan prinsip-prinsip pengelolaan
modern yang sistematis dan terencana
dengan baik. Dalam konteks inilah maka
gagasan adanya waqf core principles
(WCP)menjadi sangat penting. WCP ini
dapat dijadikan sebagai referensi standar
pengelolaan wakaf yang baik dan modern.
Dalam WCP ini harus diatur aspek tata
kelola atau waqf governance yang efektif
dan se – suai syariah. Dengan posisi wakaf
saat ini yang secara resmi telah dijadikan
sebagai bagian dari indika- tor tingkat
kesehatan sistim keuan- gan syariah di
suatu negara oleh IRTI ? IDB, maka
adanya waqf governance yang
terstandarisasi secara global sangat
diperlukan. Penulis berharap bahwa
model kerjasama BAZNAS, Bank Indonesia
dan IDB dalam me – ngembangkan zakat
core principles yang melibatkan tujuh
negara lain – nya, dapat diduplikasi pada
sektor wakaf. Untuk itu, penulis sangat
men- dorong terealisasikannya model
kolaborasi serupa antara BWI, BI dan IDB.
Jika ini dapat dilakukan, penulis yakin
bahwa zakat dan wakaf akan menjadi
\”duet maut\” yang akan men- gakselerasi
perekonomian bangsa. Ketiga, penguatan
dukungan pe – me rintah. Dukungan ini
antara lain be rupa dukungan anggaran
dan atur – an-aturan yang mendukung
pengem- bangan wakaf. Yang juga perlu
dipi – kir kan adalah bagaimana
pemerintah mendorong integrasi wakaf
dengan instrumen lain seperti sukuk.
Waqf- based sukukdapat digunakan seba –
gai jalan untuk memproduktifkan aset
wakaf yang ada. Skema sukuk al-intifa\’Zamzam Tower di Mekkah bisa menjadi
salah satu sumber referensi integrasi aset
wakaf dan sukuk. Melalui upaya penguatan yang dilakukan secara sistematis
dan kontinyu, wakaf ke depan diharapkan
dapat menjadi instrumen domestik yang dapat diandalkan untuk meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Wallahu a’lam.
e-Paper Republika 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s