Kemoterapi CHOP+MTX pada Anak Saya


Seperti postingan saya sebelumnya tentang NHL, seringkali kita sebagai orangtua menghadapi dilema saat harus menentukan pilihan apakah tetap dengan terapi medis yang sering kali berakhir pada pilihan kemoterapi ataukah dengan mencoba terapi alternatif semisal herbal atau terapi non medis lainnya. karena, yang sering kita dengar adalah kemoterapi itu menakutkan, berbahaya, dan efek sampingnya banyak. Memang benar sih, pada kondisi normal, kemoterapi dengan protokol apapun adalah racun bagi sel tubuh, karena pada dasarnya obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi berfungsi membunuh sel tubuh manusia, tidak peduli itu sel sehat ataupun sel kanker.
Saat di vonis NHL, dan harus menjalani kemoterapi, istri saya juga sempat sms agar ga usah di kemo aja, tetapi, melihat kondisi Fathi yang sudah kepayahan seperti itu, dan pengalaman selama ini pengobatan herbal itu tidak secepat efek obat medis, saya tetap memutuskan untuk menyetujui kemoterapi dengan protokol CHOP+MTX untuk mengobati NHL yang diderita Fathi. Bukan keputusan yang mudah, bahkan sangat sulit mengingat efek samping kemo yang menakutkan, dan panjangnya tahapan kemoterapi yang harus dijalani anak saya.
Alasan utama saya memilih kemoterapi adalah kondisi Fathi yang sudah sangat parah, sudah susah makan, susah minum obat, badannya persis anak yang menderita busung lapar (badannya kecil, tapi perutnya bengkak), nafasnya yang sudah sangat cepat, serta demam yang tidak turun-turun. Alasan lainnya adalah Fathi yang trauma dengan segala jenis pengobatan dan tiidak mau minum obat. 
Pernah juga sebelum Fathi masuk rumah sakit, saya bawa ke pengobatan alternatif di solo juga, metodenya pake gurah, herbal, dan sauna. Tapi, saya tidak sreg, karena yang meriksa anak saya itu ga bisa membedakan antara neuroblastoma dan nefroblastoma (saat itu fathi masih di diagnosis neuroblastoma). Bagaimana mungkin saya melepaskan pengobatan anak saya kepada orang yang bahkan ga ngerti perbedaan antara penyakit. Selain itu, metode pengobatannya itu, saya kok tidak yakin Fathi mau dan sanggup menjalaninya, apalagi mesti minum ramuan jamunya, padahal waktu itu minum satu kapsul herbal saja Fathi itu susahnya minta ampun.
Jadi, alasan lainnya saya memilih pengobatan medis sebagai terapi utama adalah pengetahuan pelakunya yang lebih baik dan spesifik, karena memang mereka belajar di bidang itu. Bahkan untuk dokter spesialis anak saja ada beberapa sub spesialisasinya, seperti dr Muhammad Riza SpA yang mengambil kekhususan Hematologi. Alasan ini yang akhirnya juga membuat saya menyetujui kemoterapi untuk Fathi.
Memang sih, efek kemoterapi NHL dengan protokol CHOP + MTX itu sangat dahsyat. Dan itu terjadi ketika kemoterapi siklus pertama, dalam kondisi tubuh yang menurun dan kurang gizi, terus di kemo. Semua efek kemoterapi itu dialami Fathi. Mulai dari muntah, mencret,rontok,sampai yang terparah adalah demam Neutropenia.
 Protokol kemo CHOP + MTX itu sebenarnya singkatan dari obat yang digunakan dalam terapinya yakni :
  • Cyclophospamide (C)
  • Hydroxy Doxorubicin (H)
  • Oncovin (vincristine) (O)
  • Prednisone atau Prednisolone (P)
  • plus Methotrexate (MTX)
Nah, tiap obat itu punya cara kerja dan efek samping masing-masing, tetapi seca umum protokol ini membunuh sel kanker, dan akumulasi efek sampingnya adalah penurunan jumlah sel darah putih yang dapat menyebabkan neutropenia. Neutropenia itu sebenarnya kekurangan sel darah putih, lebih spesifik lagi netrofil, yang mengakibatkan infeksi itu sangat gampang terjadi. Neutropenia termasuk kategori gawat darurat, sehingga harus ditangani secepatnya di rumah sakit.
Salah satu efek samping yang berbahaya adalah pendarahan lambung yang ditandai dengan berak berwarna hitam dan berbau darah, serta muntah bercampur darah hitam. Ini sebenarnya efek samping dari doxorubicin tetapi jika ini terjadi, harus segera ditangani oleh dokter di rumah sakit. Takutnya menyebabkan shock dan membahayakan jiwa. Apalagi jika terjadi kombinasi dengan neutropenia, seperti yang di alami oleh Fathi. Karena, pendarahan dan neutropenia ini, Fathi sempat dirawat di ruang PICU (Peristi Intensive Care Unit) RSDM selama seminggu. Sempat turun drastis trombositnya tinggal 75 rb sehingga harus di transfusi 3 kantong trombosit (Thrombocyte Consentrate). Setelah di tranfusi, barulah pendarahan lambungnya berhenti. Demamnya juga baru turun setelah di kasih antibiotik kelas floroquinolone (ciprofloxacin). Antibiotik kelas floroquinolone ini juga sangat berbahaya sebenarnya. Tidak akan diberikan kalo ga perlu.
Efek lainnya adalah rambut yang rontok. Fathi rambutnya rontok selama dua minggu sejak kemo pertama.efek lainnya adalah bibir kering, sariawan, sama katanya mulutnya terasa pahit. Jadi, ketika di kasih sedikit air saja, dimuntahkan sama Fathi karena pahit dirasakannya.
Efek diatas sebenarnya efek langsung dari kemoterapi, ada efek jangka panjangnya yang menurut beberapa sumber itu cukup menakutkan, dari infertilitas, potensi menyebabkan tumor lain, sampai menyebabkan penyakit jantung.
ah sudah dulu… masih pengen cerita tapi udah ilang mood nya… semoga bermanfaat…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s