Opini : Belajar i-Governance ala Debian Project


Belajar i-Governance dari proses pemilihan Project Leader Debian ternyata asyik juga ya…betapa tidak, Debian Project adalah salah satu proyek open source tertua yang masih bertahan sampai sekarang hanya dengan dukungan komunitas pencintanya.
Organisasi Debian termasuk sangat kompleks, dan mengelola proyek yang ukurannya raksasa via internet tok… hebat…. mau tau, kayak apa susunannya?? saya dapat dari internet kayak gini :
Salah satu yang membuat Debian Project sangat  berbeda dengan proyek berbasis GNU/LINUX lain adalah adanya panduan organisasi yang harus dipatuhi oleh semua orang yang tergabung dalam Debian Project. Panduan itu, disebut Constitution menjadi arahan bagi semua pihak di dalam Project Debian. Peran Debian Project Leader tidak lebih penting dibandingkan dengan Volunteers maupun pengguna Debian secara umum. Hanya saja, Project Leader memegang wewenang sesuai yang tertulis dalam konstitusinya Debian.

Pemilu nya Debian juga enggak menggunakan metode pemilihan langsung, tetapi menggunakan metode Concorcet yang terdengar ganjil diteliinga kita… kayak apa sih itu Metode?? mending langsung aja ke link berikut ini :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Condorcet_method
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Cloneproof_Schwartz_Sequential_Dropping

 Selain DFSG dan Constitutionnya yang menarik untuk diulas, keberhasilan Debian Project mengelola dirinya (governance) juga patut untuk ditilik lebih jauh. Dari hanya sekumpulan orang (baca : developer) yang hobi Linux dan sepaham, menjadi salah satu proyek paling terorganisasi tentu saja memerlukan waktu untuk mencapainya.

Menurut Siobhán O’Mahony dan Fabrizio Ferraro, keberhasilan Debian Project bertahan dalam menghadapi dilema umum komunitas (dana, perbedaan pendapat, one man show problem ) adalah bertumpu pada kesuksesan Debian Project dalam implementasi governance (tata kelola) dalam organisasi yang semakin berkembang.Dalam prosesnya, governance dalam Debian Project mengalami 4 fase penting yakni :

  1. De facto Governance (1993 – 1996);
  2. Designing Governance (1997 – 1999);
  3. Implementing Governance (1999 – 2003); and
  4. Stabilizing Governance (2003 – 2006).

  Selama fase pertama, Debian belum mengatur bagaimana kontributor berkontribusi beserta hak dan kewajibannya, Fase kedua  mulai di susun draft hak dan kewajiban masing-masing pihak kedalam dokumen resmi yakni Debian Constitution, kemudian fase III dan IV merupakan fase implementasi dan memformalkan governance kedalam Debian Project.

Dapat dikatakan bahwa kesuksesan Debian Project bertahan dan menjadi salah satu komunitas GNU/Linux tertua terletak dalam memformalkan aturan aturan baku tadi kedalam satu dokumen Debian Constitution yang harus ditaati bersama. Turunan langsung dari Debian Constitution adalah Debian Social Contract serta Debian Free Software Guidelines yang menjadi panduan bagi semua pihak di dalam Debian.

Dalam Debian Social Contract dan DFSG jelas dituliskan bahwa Debian Project mendukung gerakan Free and Open Source Software. Hal ini juga yang menyebabkan Debian Project sangat ketat dalam menyeleksi paket software yang dapat masuk kedalam repositorinya. Hal ini menyebabkan Debian seolah olah tidak menerima software non FOSS dan menjadikannya lebih tertutup dalam persoalan hardware yang tidak menyertakan software berbasis FOSS.. dengan kata lain… agak ribet make debian….hehe…

oke… begitu dulu…. udah kehabisan ide…

Next Read :

mau bedcover dan Sprei Klub Bola Favorit anda???? Klik aja
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s