Banjir : Jakarta Underwater


Jakarta banjir, ah itu mah biasa, kan emang jakarta tiap ujan banjir…:D, cuma yang terjadi seperti hari ini, nah itu yang luar biasa… Bagaimana enggak luar biasa, sampe-sampe Jalan MH Thamrin-Soedirman jadi persis kali…
Begitu hebatnya sampai Istana Negaraun ikut kebagian air banjir, kasihan tamu negara yang datang hari ini jauh jauh dari Argentina.
Apa sih penyebab banjir kali ini, katanya ada tanggul yang jebol di Latuharhari, nah akibatnya air Kanal Banjir Barat meluap ke jalan-jalan.
Efeknya… saya ga bisa ke kantor ( lagi pula kantornya dimatiin listriknya, sama aja ga bisa kerja), terus air meluap kemana-mana, dan banjir kemana-mana.
Nah, sebenernya tanda-tanda banjir besar (lima tahunan) ini udah keliatan akhir desember lalu, pas liburan Natal. saat itu juga MH Thamrin sempat tergenang juga 30 cm, tapi kata bapak Kadis PU Jakarta, hal itu disebabkan curah hujan yang tinggi, drainasenya baik dan berfungsi, tapi curah hujannya yang tinggi jadi menggenang ke jalan.
Nah, masalahnya hari apa iya juga banjirnya semata mata karena curah hujan yang tinggi? seharusnya kalau drainase yang baik itu ya bisa menanggulangi debit air paling besar… kalo tidak bisa ya bisa dibilang drainasenya tidak berfungsi dengan baik, lha wong hujan semalam saja, Jakarta lumpuh total kok….
Masalah banjir Jakarta itu sama persis dengan masalah macetnya Jakarta. Jangan tangani masalah banjir hanya dengan solusi parsial, misal perbaikan gorong-gorong saja. Tidak akan selesai, karena banjir itu cuma gejala, penyakit utamanya ada di balik gejala itu, bisa jadi salah tata ruang kota, bisa jadi alih fungsi lahan penyangga,penurunan permukaan tanah atau bahkan berawal dari pola pikir masyarakat yang salah terhadap air dan segala yang terkait dengan air hujan (sungai, DAS, danau, Situ, lahan banjir dll). Akibatnya, ya persis kayak ngobatin gejala penyakit dengan obat anti panas. 
Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi banjir di Jakarta, ya itu tadi obati penyakitnya, perbaiki tata ruangnya, perbaiki kualitas lingkungan lahan penyangga, dan yang terpenting adalah ubah pola pikir masyarakat terkait air, jangan anggap lagi sebagai ancaman, tapi anggap lah sebagai peluang. Termasuk pola pikir pemerintah (pemda, pusat). Jakarta memang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan air laut, jadi, pembangunan terusan-terusan pembuangan air hujan langsung ke laut pun nantinya akan sia-sia. Apalagi
penurunan permukaan tanah di Jakarta termasuk tinggi. Satu saat pasti akan terjadi lagi kejadian seperti saat ini, kanal-kanal tidak mampu menampung luberan air hujan, karena air laut juga ikut masuk..Jadi, paling efektif mengatasi banjir di Jakarta adalah mengubah pola fikir terhadap banjir, bukan menghilangkan banjir dari Jakarta, tapi beradaptasi dengan banjir yang memang menjadi bagian dari kehidupan Jakarta.
Alih alih mengalirkan air hujan langsung ke laut, kenapa tidak kita manfaatkan dengan mengumpulkannya dalam situ-situ, danau – danau, alih alih normalisasi kali dengan meluruskannya, kenapa tidak kita buat kembali meander meander, tentunya dengan penyiapan daerah aliran sungai sebagai penyangga banjir.Di iringi dengan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.Alih alih membangun mall-mall apa tidak sebaiknya kita perbanyak ruang terbuka hijaunya, yang tentunya bukan aspal.
Berat memang, apalagi persoalan Jakarta itu tidak akan bisa di atasi tanpa ada solusi untuk sebab yang berasal dari daerah penyangganya (bodetabek). Banjir, tidak akan selesai kalau hanya oleh Pemda DKI Jakarta. Asal muasalnya juga harus diperhatikan, Bogor-Bekasi-Tangerang-Depok juga harus ikut serta.Nah, ini salah satu penghambat dalam menanggulangi banjir di Jakarta, sehebat apapun  drainase dan sistem sungai di Jakarta, kalau penyangga di Bogor, Bekasi, dan Tangeran hancur, akan tetap banjir di Jakarta. Masalahnya, koordinasi antar daerah di Indonesia itu menurut saya sangat buruk. Ego sektoralnya sangat besar. Olehnya, Pemerintah Pusat harus turun tangan dengan menjadikan Jabodetabek itu satu daerah khusus yang berada dibawah Presiden langsung. Biar gampang pengaturannya, karena kalau saat ini, pergantian kepala daerah 7 Kabupaten/kota dan Provinsi DKI Jakarta kan tidak seragam, dan biasanya ganti pemimpin, berganti pula kebijakannya termasuk masalah banjir. kan jadi repot.
Solusi yang lain adalah kurangi beban kota Jakarta dengan lebih memeratakan pembangunan tidak hanya terpusat di Jakarta dan Jawa, dan yang paling ekstrim, pindahkan Ibukota Indonesia dari Jakarta. 
Jadi ngimpi, kapan Jakarta jadi kayak Palangkaraya ya… meskipun air dimana-mana, ya tetap jalan kok kehidupannya…
sudah ah… tidur dulu…. besok mau tidur lagi…
Next Read :
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s