Biarkanlah Ia Kembali
Oleh Sri Sundari
Setiap yang berjiwa akan berjalan menuju ke sebuah titik perhentian. Kalau masa itu telah sampai, semuanya akan tunduk menerima takdir. Masing-masing kita pasti akan memenuhi panggilan-Nya. Tiap-tiap jiwa akan datang memenuhi sesuai dengan garis waktu yang telah ditentukan-Nya.
Kematian bukanlah suatu tragedi. Kematian juga bukan sebuah malapetaka, karena setiap kita pasti akan mengalaminya. Tidak ada yang memilukan dengan kematian jika ia datang di saat kita berserah diri kepada-Nya, dan ingatlah ketika Allah berkenan memanggil kita dengan seruan-Nya yang mesra “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam (barisan) hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Al Fajr : 27-30).
Airmata selalu mengiringi ketika kematian menjemput orang-orang yang kita kasihi, bahkan untuk orang-orang yang tidak kita kenal. Yakinlah, tak ada yang salah dengan itu semua karena itulah fitrah manusia, namun tanamkanlah dalam diri. Kalau ada airmata yang jatuh karenanya, biarkanlah itu menghangatkan jiwa kita. Semoga dapat menjadi pengingat bagi kita untuk kembali menata hidup yang lebih baik. Semoga pula menjadi penyubur bagi keikhlasan dalam mengimani-Nya dengan tulus, beribadah dengan lebih khusyuk dan mampu menyisihkan sebahagian harta kita dengan niat yang lebih jernih.
La Tahzan… Kadang kematian berarti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dia memanggil jiwa-jiwa yang amat dikasihi-Nya. Dia memutus semua kesempatan kita untuk merusak bumi-Nya dan berbuat dosa. Bahkan, ketika Dia memanggil anak-anak kita, Dia memanggil jiwa yang belum dapat dimintai pertangung-jawaban, belum ada dosa yang dicatatkan, dan tidak ada keburukan yang harus dibebankan. Mereka itulah yang pasti akan menghuni surga. Dan mereka pulalah yang akan menghantarkan kedua orang tuanya ke pintu surga dengan lebih mudah, ketika masa itu tiba.